Pubertas Bikin Mood Naik Turun? Jangan Panik, Itu Normal Kok!
- https://www.pexels.com/id-id/foto/wanita-dengan-tank-top-abu-abu-3812746/
Kesehatan, VIVA Mindset –Hari ini rasanya biasa saja, besok tiba-tiba gampang kesal, dan lusa mendadak ingin menyendiri. Bagi kebanyakan remaja, perubahan suasana hati (mood swing) yang mendadak ini tentu membingungkan. Tak jarang muncul pertanyaan di dalam hati, “Aku kenapa, sih?” Padahal, bisa jadi tubuhmu memang sedang memasuki masa pubertas.
Saat Emosi Ikut Berubah
Pubertas bukan sekadar perubahan fisik seperti tinggi badan yang bertambah atau suara yang makin membesar. Mengutip ulasan kesehatan dari halodoc.com, pubertas merupakan fase perkembangan lengkap tempat remaja mengalami perubahan fisik, hormonal, hingga emosional menuju kedewasaan.
Di masa transisi ini, lonjakan hormon reproduksi seperti estrogen dan testosteron bekerja aktif di dalam tubuh, melansir dari halodoc.com. Dampaknya, remaja menjadi jauh lebih sensitif. Hal-hal kecil bisa terasa sangat mengganggu, teguran orang tua terasa menyebalkan, atau komentar teman bisa langsung membuat hati panas. Jadi, saat mood milikmu naik turun, itu bukan berarti kamu manja atau berlebihan—tubuh dan pikiranmu memang sedang beradaptasi.
Kamu Tidak Sendirian!
Banyak remaja mengira hanya mereka yang mengalami fase emosi yang "acak-acakan" ini. Padahal, perubahan emosi dan perilaku saat pubertas adalah hal yang sangat alami. Merujuk pada riset di idai.or.id, pubertas merupakan masa transisi kompleks yang tidak hanya memengaruhi aspek biologis, melainkan juga psikologis dan sosial.
Ada beberapa tanda perubahan emosi yang umum terjadi pada remaja:
- Perubahan suasana hati yang sangat cepat (mood swing).
- Lebih sensitif, mudah tersinggung, atau mendadak ingin menangis.
- Dorongan kuat untuk menyendiri dari lingkungan.
- Mulai lebih peka dan cemas terhadap penilaian teman sebaya.
Kenapa Emosi Rasanya Bisa Begitu Heboh?
Selain lonjakan hormon, otak remaja—terutama area yang mengatur kontrol emosi dan pengambilan keputusan—masih terus berkembang. Dikutip dari alodokter.com, perkembangan psikologis remaja sangat dipengaruhi oleh pola pikir yang sedang berproses, pengalaman sosial, hingga tekanan lingkungan sekitar.
Kadang, emosi yang meledak bukan sekadar karena satu masalah besar, melainkan tumpukan rasa lelah, kurang tidur, lapar, atau tekanan sekolah yang belum sempat terurai.