Karnaval Agustusan Naik Kelas, Pemdes Alasbuluh Lahirkan Karnaval Kolosal
- Anton Heri Laksana/ VIVA Mindset
Banyuwangi, VIVA Mindset –Pelan tapi pasti, penggunaan jalan raya dalam rangka ajang karnaval perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia semakin ditinggalkan masyarakat karena terkesan monoton dari tahun ke tahun hingga melahirkan kejenuhan.
Sebuah konsep karnaval baru dalam perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia ke 81 digagas Pemerintah Desa (Pemdes) Alasbuluh, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Dikemas dengan tajuk karnaval kolosal, Pemdes Alasbuluh mampu melahirkan terobosan baru dan justru lebih menarik dari sekedar karnaval peragaan busana di jalan raya.
Jika biasanya karnaval digelar di jalan raya yang hanya menampilkan hal yang monoton, namun tidak dalam karnaval kolosal yang digelar tahun 2026 ini.
Pada konsep ini, seluruh peserta bukan hanya memamerkan baju atau kostum yang dikenakannya namun juga menampilkan sebuah fragmen drama budaya serta seni.
“Peserta di karnaval kolosal ini akan menampilkan sebuah drama pendek tema budaya serta seni dengan durasi tertentu. Bukan hanya denduman musik keras atau kemewahan busana karnaval,” ujar Sekertaris Desa (Sekdes) Alasbuluh Zainal Arifin.
Bertempat di lapangan sepak bola Cempaka Putih, ribuan warga Desa Alasbuluh sangat antusias mengikuti serta menghadiri perhelatan karnaval kolosal ini.
“Konsep karnaval kolosal ini memang konsep baru yang berbeda dengan konsep – konsep karnaval yang biasa. Di karnaval kolosal ini, sajian drama pendek tema budaya serta seni ternyata ini banyak menatik minat peserta serta penonton. Antusias banget mereka, baik itu peserta atau pun masyarakat pada umumnya,” tutur Zainal Arifin pada VIVA News.
Dengan konsep karnaval kolosal itu, masyarakat luas tetap dapat ikut merayakan serta meramaikan perayaan hari kemerdekaan dengan sajian yang lebih menarik dan bukan sekedar pagelaran busana jalanan semata.
“Langkah yang dilakukan Pemdes Alasbuluh memang hal yang tidak biasa. Sangat berani dan berkualitas, entah siapa yang pertama kali memiliki konsep ini. Keren Banget konsep yang digagas ini. Pemdes lain harus melakukan hal yang sama, jika memang ingin memberikan warna baru dalam karnanal agustusan yang biasa,” kata tokoh pemuda Kecamatan Wongsorejo, Eko Moelyono.