Picky Eating pada Anak Sebenarnya adalah Kecemasan
- Photo by Mikhail Nilov: https://www.pexels.com/photo/a-girl-does-not-want-to-eat-vegetables-8119991/
Parenting, VIVA Mindset –Banyak orangtua yang memahami kebiasaan pilih – pilih makanan pada anak sebagai “picky eating”. Hal ini membuat para orangtua memutar otak dan mencari berbagai cara agar anak mereka mau memakan apa yang disajikan di depan mereka, mulai dari hadiah, permohonan, hingga mengoreksi perilaku mereka. Namun, tidak ada yang berubah.
Dilansir dari Psychology Today, dibalik perilaku picky eating pada anak ada masalah yang lebih dalam: kecemasan.
Kecemasan dibalik Penolakan Makanan
Dilansir dari Psychology Today, makan adalah salah satu keterampilan paling kompleks yang dipelajari anak-anak. Hal ini membutuhkan pemrosesan sensorik yang efektif, keterampilan motorik, pengaturan nafsu makan, dan koordinasi lebih dari 50 otot yang berbeda. Bagi beberapa anak, makanan tertentu menyebabkan ketidaknyamanan atau ketakutan yang sangat nyata. Pilihan makanan yang ingin mereka makan mungkin merupakan salah satu dari sedikit area dalam hidup mereka yang mereka rasa benar-benar dapat mereka kendalikan.
Seorang anak yang menolak brokoli mungkin tidak menolak gagasan brokoli itu sendiri. Sebaliknya, mereka mungkin merasa kewalahan oleh baunya, khawatir tentang teksturnya, atau tidak yakin bagaimana rasanya di mulut mereka. Bagi anak dengan sensitivitas sensorik atau kecemasan, ketidakpastian itu bisa terasa sangat berat. Banyak anak yang cemas saat makan menganggap makanan yang tidak dikenal sebagai sesuatu yang tidak dapat diprediksi, dan ketidakpastian itu memicu kecemasan.
Sebagai respons, anak-anak mengandalkan makanan yang aman: makanan yang mereka tahu akan memiliki rasa dan tekstur yang sama persis setiap saat. Kerupuk, pasta polos, dan nugget ayam sering menjadi makanan pokok karena konsisten dan dapat diandalkan. Kerupuk ikan mas akan selalu terasa, bertekstur, dan berbau sama. Anak-anak sering cenderung memilih makanan olahan karena setiap aspeknya sangat mudah diprediksi, sedangkan buah atau sayuran segar memiliki variabilitas yang tinggi. Misalnya, satu blueberry mungkin manis dan lembek, sementara yang lain asam dan keras.
Kenapa Pemaksaan malah Menjadi Bumerang
Orang tua tentu ingin anak-anak mereka mengonsumsi berbagai macam makanan. Ketika anak-anak menolak makan, orang dewasa mungkin merespons dengan tekanan verbal seperti “coba satu gigitan saja,” “kamu tidak boleh meninggalkan meja sebelum mencobanya,” atau “jika kamu tidak makan ini, kamu tidak akan mendapatkan makanan penutup.” Sayangnya, tekanan cenderung meningkatkan kecemasan daripada menguranginya.