Tembus 2 Juta Penonton dalam 10 Hari, Jangan Buang Ibu Jadi Fenomena Box Office Indonesia 2026
- https://www.instagram.com/p/DaZrmfCRGWE/
Tren, VIVA Mindset –Film drama keluarga Jangan Buang Ibu resmi mencatatkan diri sebagai salah satu fenomena bioskop terbesar Indonesia sepanjang 2026. Seperti diumumkan melalui akun Instagram resmi Leo Pictures, film garapan sutradara Hadrah Daeng Ratu ini berhasil menembus angka 2 juta penonton hanya dalam 10 hari penayangan sejak mulai tayang pada 25 Juni 2026.
Capaian tersebut menjadikan Jangan Buang Ibu film Indonesia keenam yang berhasil melampaui 2 juta penonton sepanjang tahun ini, bergabung bersama Danur: The Last Chapter, Ghost in the Cell, Tunggu Aku Sukses Nanti, Alas Roban, dan Sekawan Limo 2: Gunung Klawih.
Rekor Demi Rekor yang Terus Dipecahkan
Perjalanan Jangan Buang Ibu di bioskop bisa dikatakan sempurna dari hari pertama. Dilansir dari akun Instagram resmi @filmjanganbuangibu, film ini mencatat opening day tertinggi untuk film Indonesia sepanjang 2026. Momentum itu berlanjut tanpa henti: dalam lima hari pertama, Jangan Buang Ibu menembus 1 juta penonton dengan total 1.077.789 tiket terjual, menjadikannya film Indonesia ke-14 yang mencapai angka tersebut tahun ini.
Pada hari ketujuh, total penonton sudah menyentuh 1.473.577, melampaui perolehan akhir film Na Willa. Hari kedelapan, angkanya sudah berada di 1.649.802. Dan tepat di hari kesepuluh, Leo Pictures melalui akun Instagram resminya mengonfirmasi pencapaian 2 juta penonton, sebuah tonggak yang biasanya membutuhkan waktu jauh lebih lama.
Kisah yang Memukul Tepat di Jantung Penonton
Film ini diadaptasi dari novel Jangan Buang Ibu, Nak karya Wahyu Derapriyangga. Seperti dikutip dari kanal YouTube resmi Leo Pictures, cerita berpusat pada Ristiana (Nirina Zubir), seorang ibu tunggal yang membesarkan tiga anaknya seorang diri setelah ditinggal suami (Dwi Sasono) yang mewariskan utang menggunung. Dengan kerja keras dan pengorbanan tanpa batas, Ristiana berhasil membesarkan Tama (Refal Hady), Dewi (Amanda Manopo), dan Tria (Saputra Kori) dengan baik.
Konflik utama film hadir di usia senja Ristiana. Alih-alih menikmati hasil kerja kerasnya bersama anak-anak yang sudah dewasa, ia justru dititipkan ke panti jompo. Film ini mempertanyakan satu hal sederhana yang ternyata tidak mudah dijawab: apakah menempatkan orang tua di panti jompo, meski dengan fasilitas dan pelayanan baik, sudah cukup sebagai balasan atas semua pengorbanan seorang ibu?