Pentas Sidamoktaning Bubat, Rekonstruksi Pasunda Bubat di Nyiar Lumar 2022
- Willy Fahmy Agiska
Oleh sebab itu saya pikir pementasan Sidamoktaning Bubat bukan pementasan yang memiliki akhir. Sebagai sebuah pementasan ia memang memiliki unity of time dan karenanya batas durasi, tetapi sebagai sebuah warisan kultural tak pernah ada tirai turun. Kesedihan yang sama akan direproduksi kelak dalam pagelaran Pasunda Bubat di pengujung Nyiar Lumar 2024, 2026, 2028.
Yang Tersisa dari Sidamoktaning Bubat
Sidamoktaning Bubat
- Willy Fahmy Agiska
Sudah lewat pukul satu dini hari ketika Sidamoktaning Bubat usai dipentaskan dan pagelaran penutup Nyiar Lumar 2022 diselenggarakan, Ronggeng Gunung Bi Raspi. Lelatu meletik dari api unggun, menara prajurit pengawas/narator sudah kosong, rasa hangat menjalar mengusir udara dingin Astana Gede.
Dalam perjalanan meninggalkan Pasanggrahan, melangkah melintasi jalan yang diapit pohon Jati, pohon Mahoni, terasa tertinggal rasa sedih yang dingin. Saya teringat siang sebelumnya saat menekur di depan perabuan Putri Citra Resmi, mengalun baris-baris penutup puisi Sayudi yang pertama kali saya temukan di buku pelajaran Gapura Basa masa kecil:
Hiuk angin wawangian
mirig Putri nu lastari
dipapag ku katumbiri
Jelas bukan cahaya Lumar yang menuntun saya kembali malam itu, cahaya bioluminesensnya kalah oleh remang cahaya obor di kiri kanan jalan. Akan tetapi bayang-bayang putri yang pergi diiring angin semerbak | disambut oleh pelangi tetap menemani saat saya beberapa kali berhenti di depan tiap-tiap bekas tempat pentas yang sudah sepi. Ketika kaki saya sudah tak lagi menginjak jerami dan cahaya tahun 2022 yang kian pudar menyambut, spontan saya mengucapkan penutup puisi Sayudi perlahan: urang tutup galur catur | padakeun tepi ka dinya | Bral.
Seorang gadis yang dari tadi berjalan di belakang saya menyalip langkah sambil melayangkan tatap heran. Wajah setengah siluetnya seperti sisa memori yang meronta ingin ikut merayakan pagi. Mungkin dia mengira saya mabuk dan membayangkan diri juru pantun keraton agung Surawisésa.
Mengikuti langkahnya melintasi pelataran, saya baru sadar bahwa saya lelah dan mengantuk. Akan tetapi saya yakin dalam tidur setelah itu saya pasti memimpikan fragmen-fragmen kisah dari masa yang jauh dalam lanskap yang hanya diterangi lumar-lumar kecil di atas lumut bebatuan tak jauh dari perabuan Putri Dyah Pitaloka Citraresmi di Astana Gede Kawali.