Krisis Mahasiswa dan Menara Gading Kampus

Fahmi G Priono, Pegiat Politik dan Demokrasi.
Sumber :
  • MindsetVIVA

img_title Mau Mulai Investasi? Jangan Salah Langkah Agar Tidak Boncos…

Pada Kongres Pemuda tahun 1928, para intelektual muda alih-alih menjadi seorang intelektual muda yang ketika ia lulus akan menduduki jabatan-jabatan amtener (Pegawai Negeri Sipil Zaman Kolonial).

Sebaliknya, banyak dari intelektual muda yang berasal dari keluarga priyayi justru menolak posisi tersebut. Mereka lebih memilih untuk berjuang dan secara sukarela mengorbankan keuntungan pribadi mereka demi cita-cita bersama sebagai bangsa.

img_title Miranti Mayangsari Puji Mekanisme Musyawarah Majelis Syura: Optimistis PKS Kian Dekat dengan Rakyat

Pertanyaannya adalah, mengapa kita tidak lagi menemukan mahasiswa yang menjadi intelektual muda yang datang dengan semangat untuk mencapai cita-cita besar?

Bayangan kemajuan bangsa dan komitmen bersama terhadap cita-cita negara Indonesia sebagai bangsa yang dibangun dengan semangat gotong-royong memudar. Saat ini, lebih mudah bagi kita menemui legenda atau mitos seperti kuntilanak daripada menemukan mahasiswa yang mewarisi semangat Sumpah Pemuda.

img_title Reddit Tanggapi Kontroversi Elon Musk dengan Blokir Tautan X, Apa Dampaknya bagi Pengguna?

Situasi ini berasal dari upaya pemfosilan para pemuda, terutama dalam konteks ini adalah mahasiswa sebagai intelektual muda.

Meskipun Hari Sumpah Pemuda diperingati setiap tahun, namun peringatan tersebut seringkali hanya menjadi acara seremonial yang tidak memiliki dampak nyata dan terkesan artifisial.

Secara filosofis maupun dalam praktiknya, konsep "Muda" mengalami perubahan yang mencerminkan kemunduran (involusi) atau kejumudan. 

Sementara tujuan di balik peringatan Hari Sumpah Pemuda adalah sebagai ruang untuk kita 'mengisi baterai', agar tetap terhubung dengan semangat perjuangan pemuda tahun 1928 dan menghidupkan kembali semangat pemuda dengan cara kembali ke akar sejarah.

Mencari role model tokoh-tokoh pemuda pada zaman itu yang memiliki peranan penting dan apa yang mereka lakukan pada periode itu untuk kemudian dijadikan teladan.

Inspirasi dan terus dilakukan reinterpretasi yang relevan oleh mahasiswa pada masa sekarang untuk menghadapi tantangan zaman. 

Saat ini Ikrar Sumpah Pemuda sendiri hanya diucapkan dengan hampa oleh mahasiswa pada kesempatan-kesempatan tertentu, berputar-putar hanya sebagai kata-kata tanpa makna yang pada akhirnya mengalami kemerosotan.

Setelah itu, Sumpah Pemuda ini akan mengarah pada pengeramatan, pengkultusan, mitos sehingga yang terjadi adalah disorientasi dan degradasi nilai. 

Mahasiswa masa kini menghadapi dampak destruktif dari sebuah missing link yang mengakibatkan mereka kehilangan esensi sejati menjadi mahasiswa, mereka saling menarik ke bawah, saling menjatuhkan tanpa dasar argumen yang kuat.

Halaman Selanjutnya
img_title