Mau Mulai Investasi? Jangan Salah Langkah Agar Tidak Boncos…
- unplash
Jakarta, Mindset – Investasi adalah strategi menumbuhkan uang. Uang jika didiamkan akan tergerus inflasi, yaitu suatu kondisi barang-barang yang akan dibeli cenderung naik harganya. Contohnya, tahun kemarin harga mie instan sekitar Rp2.000,00 sekarang menjadi Rp3.500,00. Jika tidak mengetahui hukum ini, tentu uang kita tergerus setiap tahun.
Kamu sudah paham mengenai pentingnya investasi, tidak hanya menabung uang. Sebab, menabung uang nilainya akan tetap seperti itu malah jika disimpan di bank akan tergerus admin.
Kecuali nilai nominalnya besar bank memiliki kebijakan memberikan bunga sekitar 3% sampai dengan 4% pertahun. Itu pun dipotong pajak.
Namun, perlu diperhatikan istilah ini, “High Risk, High Return.” Artinya “Semakin tinggi risiko, semakin tinggi imbal hasil.”
Dengan demikian, investasi apapun harus dilihat apa produk investasinya, bagaimana imbal hasilnya dan kita bisa melihat seberapa besar risikonya. Apakah kita siap dengan risikonya?
Lalu kita mulai darimana? Berikut redaksi memberikan tipsnya, agar Anda bisa berinvestasi dengan aman dan nyaman.
1. Investasi Bukan Jalan Pintas, Tapi Perencanaan Jangka Panjang
Sebelum berinvestasi, Anda harus menyadari bahwa investasi bukan cara cepat kaya, tetapi sebuah jalan untuk mencapai tujuan jangka panjang.
Investasi yang baik dan benar bukan soal cepat untung, tapi tentang strategi cerdas yang mempertimbangkan risiko secara matang.
Banyak orang tergoda oleh janji “cuan instan” tanpa benar-benar memahami apa itu investasi.
Padahal, investasi yang sehat adalah proses menumbuhkan uang secara bertahap dengan memperhatikan:
- Tujuan finansial (pensiun, pendidikan anak, beli rumah, dll.)
- Jangka waktu
- Profil risiko pribadi
Mindset tentang investasi ini sangat penting, agar Anda tidak terjebak investasi bodong.
Bukannya untung, malah buntung. Ingat, “High Risk, High Return” banyak penipu dengan skema ponzi yang mengintai kita, maka waspadalah!
2. Kenali Dulu Risiko Sebelum Mengejar Imbal Hasil
a. Risiko Rendah (Low)
- Tabungan bank
- Deposito
- Emas
- Reksadana Pasar Uang
b. Sedang (Moderat)
- Reksadana Pendapatan Tetap
- Obligasi dan Surat Hutang Berharga Negara (SBN)
- Reksadana Campuran (RDPU-Saham)
c. Tinggi (High Risk)
- Saham
- Crypto
- Forex
Semakin lama jangka waktunya, maka investasi yang tinggi risiko akan menjadi lebih aman. Contoh saham, dalam jangka waktu pendek akan naik turun. Tetapi, dalam jangka waktu panjang ia akan semakin naik.