Krisis Mahasiswa dan Menara Gading Kampus
- MindsetVIVA
Mereka mengaku menjadi bagian dari negara tetapi tidak memahami tujuan sejati dari menjadi warga negara. Mereka mengaku bangga menjadi bagian dari sebuah bangsa tetapi tidak memahami tujuan sebenarnya dari persatuan tersebut. Semua ini menyerupai sekelompok kera yang saling bertarung dalam kegelapan yang tidak berarti.
Disorientasi Mahasiswa
Ilustrasi mahasiswa dengan gadgetnya.
- Freepik.com
Pada zaman sekarang, kita dapat melihat contoh yang jelas dari disorientasi dan penurunan nilai-nilai pemuda tersebut. Salah satunya terlihat ketika mahasiswa membentuk partai politik dan tindakan pertama yang mereka lakukan adalah mengunjungi istana dan berusaha menjadi bagian dari kekuasaan yang ada di sana.
Hal ini jelas bertentangan dengan apa yang dilakukan oleh kaum intelektual muda pada tahun 1928. Pada saat itu, ketika para intelektual muda dan orang terpelajar membentuk organisasi atau partai politik.
Langkah pertama yang mereka ambil adalah membedakan diri mereka dari kekuasaan yang ada. Mereka menarik garis batas dengan tegas terhadap penguasaan dan mengadopsi sikap kritis terhadap kekuasaan demi kepentingan rakyat.
Di tengah lingkungan kampus, ada mahasiswa dan organisasi mahasiswa yang bangga menjadi penghubung antara pihak kampus dan mahasiswa lainnya. Mereka cenderung menerima kebijakan kampus tanpa banyak perlawanan, bahkan jika kebijakan tersebut tidak menguntungkan bagi mahasiswa.
Mahasiswa yang digambarkan sebagai 'young hero', pada saat negara sedang dalam masa-masa sulit justru sangat eksklusif, tidak memiliki sikap ideologis, sangat kompromis, pragmatis dan oportunis.
Sebagian besar mahasiswa sekarang telah melupakan tugas dan tujuan mereka sebagai mahasiswa. Mereka cenderung menjadi pemuda yang egois, manja, tanpa rasa krisis (sense of crisis) dan tanpa rasa memiliki (sense of belonging) terhadap berbagai persoalan dan kondisi sosial.
Berteriak lantang dalam berbagai demonstrasi mengatasnamakan rakyat tetapi dalam proses perjuangannya sama sekali tidak terintegrasi secara langsung bersama-sama di tengah rakyat, tidak mengerti psikologis rakyat, bahkan mencium aroma keringat rakyatnya pun tidak.
Mereka menunjukkan sikap antipati terhadap rakyat miskin, dengan merasa lebih terdidik dan memiliki status yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak berpendidikan. Mereka cenderung merasa eksklusif, memandang rendah dan tidak berempati terhadap mereka.