Langkah Mencegah Cyberbullying Pada Anak Saat Mulai Mengenal Media Sosial
- https://www.pexels.com/photo/bullying-inside-a-classroom-6936381/
Parenting, VIVA Mindset –Peningkatan akses internet di kalangan anak-anak dan remaja membawa risiko meningkatnya fenomena perundungan siber atau cyberbullying. Berdasarkan data, penetrasi internet pada anak usia 13-18 tahun telah mencapai 99,16 persen, di mana mayoritas mengaksesnya melalui gawai pribadi. Perilaku perundungan siber ini dapat berupa kekerasan siber (harassment), pencemaran nama baik (denigration), hingga pengucilan secara daring (exclusion).
Langkah pencegahan utama yang perlu dilakukan orang tua adalah memberikan edukasi literasi digital secara berkala agar anak memiliki kemampuan perlindungan diri (self-protection). Salah satu metode praktis yang disosialisasikan adalah prinsip BIJAK, yaitu menggunakan Bahasa yang baik, memperhatikan Ikon emosi, Jangan berbagi sebelum disaring, Atur data pribadi, dan Kuatkan kata sandi agar tidak mudah diretas. Selain itu, pihak kepolisian melalui Bhabinkamtibmas juga aktif mengedukasi pelajar agar membangun rasa empati sejak dini dan memahami bahwa sekolah serta dunia maya harus menjadi tempat yang aman, bukan tempat untuk saling menyakiti.
Orang tua juga harus peka terhadap tanda-tanda jika anak mulai menjadi korban perundungan. Beberapa gejala yang sering muncul antara lain perubahan tingkah laku menjadi murung, lebih pendiam, komunikasi berkurang, hingga kehilangan minat pada hobi yang sebelumnya disukai. Dalam beberapa kasus, anak juga dapat mengalami gangguan psikosomatis, seperti mengeluh sakit fisik (sakit kepala atau sakit perut) padahal tidak ditemukan masalah kesehatan saat diperiksa secara medis.
Keterlibatan aktif orang tua dalam memantau durasi dan konten yang diakses anak sangatlah krusial untuk mencegah dampak traumatis yang lebih dalam. Membangun komunikasi dua arah yang terbuka akan membuat anak merasa nyaman untuk bercerita jika mereka mengalami intimidasi di internet. Dengan pengawasan yang tepat dan lingkungan sosial yang mendukung, anak dapat terlindungi dari risiko negatif dunia digital.