Pacaran Kok Ngatur? Waspada Kalau Itu Bukan Cinta!
- https://www.pexels.com/id-id/foto/wanita-dengan-jaket-merah-berdiri-di-samping-pria-dengan-sweater-coklat-6147235/
Parenting, VIVA Mindset –Awalnya mungkin terlihat sepele. Ada yang selalu ingin tahu kamu di mana, dengan siapa, kenapa balas chat lama, atau kenapa pergi tanpa izin. Lama lama, hal yang disebut sayang itu justru terasa menekan. Dalam hubungan remaja, perilaku mengontrol sering kali dianggap wajar, padahal itu bisa jadi tanda hubungan yang tidak sehat.
Saat Sayang Berubah Jadi Kontrol
Remaja sering belajar mengenal cinta dari pengalaman pertama, media sosial, atau cerita teman. Karena itu, cemburu berlebihan kadang disalahartikan sebagai perhatian. Padahal, perhatian yang sehat tidak membuat seseorang takut, tertekan, atau kehilangan ruang pribadi.
Halodoc menjelaskan bahwa toxic relationship ditandai oleh kurangnya dukungan, komunikasi yang menghakimi, kecemburuan berlebihan, dan perilaku mengontrol pasangan, dikutip dari halodoc.com �. Kalau pasangan mulai mengatur cara berpakaian, melarang berteman, memeriksa ponsel, atau memaksa memberi lokasi setiap saat, itu sudah masuk wilayah yang perlu diwaspadai.
Hubungan yang sehat seharusnya membuat dua orang tumbuh. Bukan saling mengawasi seperti patroli. Saat satu pihak terus mengatur, yang lain bisa pelan pelan kehilangan rasa percaya diri, merasa bersalah, dan ragu pada keputusan sendiri.
Pacaran Sehat Itu Punya Ruang
Pacaran yang sehat bukan berarti selalu setuju dalam semua hal. Justru, hubungan sehat memberi ruang untuk berbeda pendapat, punya waktu sendiri, dan tetap dekat dengan teman serta keluarga. Kalau seseorang merasa tidak bebas berbicara, tidak bebas bergaul, atau harus terus menyesuaikan diri agar pasangan tidak marah, hubungan itu patut dipertanyakan.
Alodokter menyebut hubungan abusive terjadi ketika satu pihak berusaha menguasai dan mengendalikan pihak lainnya melalui perilaku negatif, termasuk paksaan, isolasi sosial, dan kekerasan emosional, merujuk alodokter.com �. Ini penting dipahami remaja karena tanda awalnya sering datang dalam bentuk yang tampak kecil, lalu makin lama makin menekan.
Contohnya, pasangan yang marah kalau chat tidak dibalas cepat, memaksa tahu password media sosial, atau menganggap kamu tidak sayang hanya karena ingin punya waktu sendiri. Di awal mungkin disebut perhatian. Tapi kalau terus berulang, itu bisa berubah menjadi kontrol.