Pacaran Kok Ngatur? Waspada Kalau Itu Bukan Cinta!
- https://www.pexels.com/id-id/foto/wanita-dengan-jaket-merah-berdiri-di-samping-pria-dengan-sweater-coklat-6147235/
Tanda Bahaya Yang Sering Dianggap Wajar
Ada beberapa tanda yang sering tidak langsung disadari:
Pasangan memantau semua aktivitasmu.
Kamu merasa harus meminta izin untuk hal yang sederhana.
Kamu dijauhkan dari teman atau keluarga.
Kamu takut menolak karena khawatir dimarahi.
Kamu merasa bersalah saat menjaga privasi.
Halodoc juga menegaskan bahwa pasangan yang toxic cenderung mengontrol perilaku, membuat orang merasa tidak nyaman, dan berusaha membatasi kebebasan pasangan, dikutip dari halodoc.com �. Sementara itu, Alodokter menjelaskan bahwa hubungan abusive juga dapat memunculkan kekerasan fisik maupun emosional, serta rasa tidak berdaya pada korban, dilansir dari alodokter.com �.
Kalau hubungan mulai membuatmu sering cemas, kehilangan kepercayaan diri, atau merasa terisolasi, itu bukan tanda cinta yang kuat. Itu tanda ada yang tidak beres.
Consent Dan Batas Itu Penting
Hubungan yang sehat juga harus menghormati consent. Consent bukan hanya soal sentuhan atau hubungan intim, tetapi juga soal rasa aman dalam hubungan sehari hari. Kamu berhak bilang tidak untuk pelukan, ciuman, foto, atau tindakan apa pun yang membuatmu tidak nyaman.
Halodoc menjelaskan bahwa consent adalah persetujuan yang diberikan secara sadar dan sukarela, serta bisa ditarik kapan saja, melansir halodoc.com �. Artinya, setuju sekali bukan berarti setuju selamanya. Kalau kamu berubah pikiran, itu tetap sah.
WHO juga menekankan bahwa pendidikan seksual komprehensif perlu membantu remaja memahami tubuh, hubungan, hak, dan keamanan agar bisa mengambil keputusan yang bertanggung jawab, dikutip dari who.int �. Dalam konteks pacaran, itu berarti memahami batas pribadi dan menghormati batas orang lain.
Kalau Sudah Terlanjur Tertekan
Kalau kamu merasa hubunganmu sudah tidak sehat, kamu tidak harus menyelesaikannya sendirian. Ceritakan ke orang yang kamu percaya, seperti sahabat, kakak, orang tua, guru, atau konselor. Halodoc menyarankan untuk membuat batas yang tegas, mencari dukungan sosial, dan menjauh dari pasangan yang terus merugikan, dilansir dari halodoc.com �.
Kalau ada unsur ancaman, kekerasan, atau paksaan, cari bantuan profesional secepatnya. Kemenkes juga memiliki materi edukasi tentang pencegahan dan penanganan kekerasan seksual yang relevan untuk remaja, dikutip dari ayosehat.kemkes.go.id �.