4 Alasan Gen Z Mudah Merasa Cemas
- https://unsplash.com/id/foto/pria-berjaket-hitam-duduk-di-kursi-b9EjKqxXAnk
Parenting, VIVA Mindset –Fenomena meningkatnya kecemasan di kalangan Gen Z kini menjadi sorotan banyak pihak. Generasi yang tumbuh di tengah kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi ini ternyata menghadapi tekanan mental yang tidak kecil.
Lalu, apa saja faktor yang membuat generasi ini lebih mudah merasa cemas dibanding generasi sebelumnya?
1. Paparan Media Sosial yang Masif & Perbandingan Sosial
Media sosial menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Gen Z. Namun di balik kemudahan akses informasi dan koneksi, ada sisi gelap yang memicu kecemasan.
Tekanan untuk tampil sempurna, banyaknya perbandingan sosial, serta dorongan mendapatkan validasi dari “like” dan komentar membuat banyak anak muda merasa tidak cukup baik. Setiap unggahan, komentar, hingga berita viral dapat menjadi pemicu stres psikologis yang terus-menerus.
2. Stres Global & Berita Kekerasan
Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z hidup di era di mana berita buruk bisa diakses 24 jam. Dari konflik global, isu perubahan iklim, hingga kekerasan di media sosial semua tersaji secara real time.
Dilansir dari laman Parents.com kondisi ini menimbulkan rasa tidak aman dan ketidakpastian yang berujung pada kecemasan kolektif. Banyak Gen Z menyebut bahwa mereka merasa “lelah secara emosional” hanya karena terlalu sering membaca berita negatif.
3. Ketidakpastian Ekonomi & Tekanan Hidup
Harga kebutuhan yang terus naik, kompetisi kerja yang semakin ketat, serta kekhawatiran soal masa depan membuat Gen Z kerap merasa tertekan.
Beban ekspektasi sosial baik dari keluarga maupun lingkungan menambah tekanan psikologis mereka. Tidak sedikit yang merasa gagal hanya karena belum mencapai standar “sukses” di usia muda.
4. Trauma Masa Pandemi & Gangguan Sosial
Pandemi COVID-19 meninggalkan luka yang dalam bagi banyak anak muda. Isolasi sosial, pembelajaran jarak jauh, dan kehilangan rutinitas normal membuat banyak Gen Z mengalami trauma emosional.
Meski pandemi telah berlalu, dampaknya terhadap kesehatan mental masih terasa hingga kini. Banyak dari mereka yang masih berjuang memulihkan rasa aman dan stabilitas emosional.
Di tengah semua tekanan tersebut, ada hal positif yang patut diapresiasi. Gen Z kini lebih terbuka membicarakan kesehatan mental.