Jangan Terkecoh “Fase Tenang” Anak Usia 6-10 Tahun, Hal Ini Sering Tidak Disadari Orang Tua
- https://www.pexels.com/photo/female-girls-going-to-school-8617515/
Parenting, VIVA Mindset – Usia 6-10 tahun sering dianggap sebagai fase yang “tenang” dalam pengasuhan. Anak sudah melewati masa balita yang intens, tetapi belum masuk ke dinamika remaja. Di balik itu, justru terjadi proses penting dalam perkembangan anak usia sekolah, terutama dalam membentuk keyakinan dasar tentang diri sendiri, tentang “aku ini siapa” dan “seberapa berharganya aku”.
Perubahan di fase ini tidak selalu terlihat dari perilaku yang mencolok, melainkan dari cara anak mulai berpikir, membandingkan, merasakan, dan menilai dirinya. Karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami beberapa dinamika berikut agar bisa merespons dengan lebih tepat.
1. Anak Mulai Membandingkan Diri dan Menilai Posisi Diri
Di usia ini, anak mulai memahami bahwa dunia tidak berpusat pada dirinya. Ia melihat teman yang lebih unggul dalam hal tertentu, lebih disukai, atau lebih diperhatikan, lalu secara alami mulai membandingkan diri. Dalam psikologi anak usia 6-10 tahun, proses ini menjadi bagian penting dari pembentukan konsep diri. Jika tidak didampingi, anak bisa menginternalisasi perbandingan sebagai rasa kurang.
2. Anak Belajar Dinamika Pertemanan dan Makna Diterima
Relasi sosial mulai terasa lebih kompleks. Anak tidak hanya bermain, tetapi juga mulai memahami adanya kelompok, kedekatan, dan preferensi dalam berteman. Pengalaman seperti tidak diajak bermain atau merasa “tidak cocok” mulai memiliki dampak emosional yang lebih dalam. Di sini, anak belajar memahami posisi dirinya dalam lingkungan sosial sekaligus memahami bahwa tidak semua hubungan berjalan sesuai harapan, dan bahwa diterima oleh semua orang bukanlah sesuatu yang selalu bisa terjadi.
3. Emosi Ditahan di Lingkungan Luar, Dilepaskan di Rumah
Di sekolah atau lingkungan luar, anak berusaha mengikuti aturan, menjaga perilaku, dan menyesuaikan diri. Upaya ini membuat anak menahan banyak respons emosional. Ketika kembali ke rumah, beban tersebut sering kali dilepaskan dalam bentuk yang lebih intens, seperti tangisan, kemarahan, atau perilaku yang tampak “kembali kecil”.
Dalam konteks emosi anak usia sekolah, hal ini menunjukkan bahwa anak sedang berlatih regulasi emosi. Rumah menjadi tempat aman di mana anak tidak perlu menyaring perasaannya. Respons orang tua yang menerima dan tidak menghakimi membantu anak belajar mengenali emosinya secara lebih sehat.