Stop Mendidik Anak untuk Selalu Mengalah! Ini Bahaya People Pleaser di Masa Depan

Cara mencegah anak agar tidak menjadi people pleaser
Sumber :
  • https://images.pexels.com/photos/32345079/pexels-photo-32345079.jpeg

Parenting, VIVA Mindset – Memiliki anak yang penurut, sopan, dan jarang membantah sering dianggap sebagai sebuah keberhasilan. Namun, di balik sikap tersebut, bisa saja anak sedang menekan banyak hal dalam dirinya.

img_title Menjaga Mental Parents: Panduan Atasi Burnout Pengasuhan Anak

Fenomena ini dalam psikologi sering dikaitkan dengan perilaku people pleaser, yaitu kecenderungan untuk selalu menyenangkan orang lain, bahkan dengan mengorbankan diri sendiri.

Banyak anak belajar sejak kecil bahwa mereka akan dipuji saat nurut, diam, dan tidak merepotkan. Akhirnya, mereka mulai percaya bahwa nilai dirinya bergantung pada seberapa baik mereka di mata orang lain. Dalam jangka panjang, ini bisa membuat anak takut melakukan kesalahan, selalu ingin menyenangkan orang lain, dan sulit mengatakan “tidak”.

img_title Screentime Sehat: Trik Bijak Mengatur Penggunaan Gadget Anak

Menurut para ahli, anak dengan kecenderungan people pleasing berisiko mengalami kecemasan atau stres, rasa lelah secara emosional, hingga kesulitan mengenali kebutuhan diri sendiri. Hal ini terjadi karena mereka terus-menerus menempatkan orang lain di atas dirinya sendiri.

Berikut beberapa tanda pada anak yang sering tidak disadari orang tua:

img_title Kenalan Yuk Apa Itu Breadcrumbing serta Ciri-Ciri dan Dampaknya

1. Selalu mencari persetujuan atau validasi

Anak sering bertanya: “Aku sudah benar belum?” atau “Kamu marah gak sama aku?”

2. Sulit mengungkapkan perasaan

Mereka jarang marah atau menangis di depan orang tua. Bukan karena tidak punya emosi, tapi karena terbiasa menahannya.

3. Terlalu sering minta maaf, bahkan untuk hal kecil

Anak merasa bertanggung jawab atas suasana hati orang lain, sehingga mudah merasa bersalah.

4. Tidak berani menolak

Mereka cenderung berkata “iya” meski sebenarnya tidak ingin, karena takut mengecewakan orang lain.

5. Terlalu fokus membahagiakan orang lain

Anak lebih peduli perasaan orang lain dibanding dirinya sendiri, bahkan sampai mengabaikan kebutuhan pribadi.

Beberapa pola asuh yang tanpa sadar memicu kondisi tersebut di antaranya:

1.      Terlalu sering melabeli anak sebagai “anak baik”

2.      Tidak memberi ruang anak untuk mengekspresikan emosi

3.      Menuntut anak untuk selalu menurut

4.      Lingkungan yang membuat anak takut melakukan kesalahan.

Akibatnya, anak belajar bahwa jika ingin diterima, berarti harus selalu menyenangkan orang lain. Jika terus dibiarkan, mereka bisa tumbuh menjadi pribadi yang tidak percaya diri, mudah dimanfaatkan orang lain, kehilangan jati diri, rentan stres hingga burnout. Bahkan dalam hubungan sosial, mereka bisa kesulitan membangun batasan yang sehat.

Halaman Selanjutnya
img_title