5 Tipe Ucapan Sepele Perusak Mental Anak
- tom9802/ https://pixabay.com/id/photos/pria-sedih-sedih-anak-loading-dock-2857248/
Parenting, VIVA Mindset –Hati-hatilah bicara dengan anak. Anak-anak masih sangat polos dan peka perasaannya. Nah, apakah kamu sering dengar ucapan seperti ini?
- "Ih, ibu kamu sibuk terus, ya? Enggak mau kasih cokelat? Sini, aku kasih."
- "Mama capek kerja buat kamu, masa kamu enggak nurut?"
- "Kalau kamu nakal, Ayah enggak sayang lagi, lho."
Manipulasi Emosional Anak
Sekilas, kalimat-kalimat di atas terdengar biasa saja. Kelihatan seperti candaan atau lucu-lucuan. Tapi hati-hati, kalimat di atas bisa jadi bentuk manipulasi emosional pada anak.
Manipulasi emosional, menurut parentingasyik di Instagram, adalah ketika orang tua atau orang dewasa dengan sengaja mengendalikan perasaan anak, agar mereka menuruti kemauan. Dampaknya, anak bisa merasa bersalah, takut, dan tidak berharga.
Ada beberapa contoh ucapan manipulasi emosi yang mungkin sering tidak kamu sadari:
1. Membandingkan: "Lihat tuh, kakakmu lebih pintar, kok kamu gitu sih?"
2. Membuat anak merasa bersalah: "Mama sakit, kamu berisik banget sih."
3. Mengancam dengan cinta: "Tante lebih sayang aku daripada ibu."
4. Silent treatment: Mendiamkan anak sampai mereka merasa bersalah dan akhirnya menurut.
5. Pelabelan negatif: "Dasar cengeng, gitu doang nangis."
Dampak Buruk untuk Masa Depan Anak
Anak-anak belum bisa membedakan candaan dan sindiran. Mereka hanya menyerap perasaan yang muncul. Anak hanya menyimpan perasaan secara tidak sadar. Ucapan-ucapan di atas bisa berdampak panjang dan membuat mereka:
- Merasa tidak cukup dicintai. Contoh: “Aku nggak disayang…”
- Merasa bingung antara candaan dan kenyataan yang menimbulkan rasa bersalah. Contoh: “Aku harus lebih baik agar bisa diterima.”
- Mempertanyakan kasih sayang orang terdekat. Hubungan dengan orang tua bisa retak secara perlahan. Contoh: “Tante lebih sayang aku daripada Ibu.”
- Anak jadi krisis kepercayaan pada orangtua. Anak meragukan cinta dan kasih sayang orang yang paling ia percaya. Anak tumbuh dengan rasa tidak aman dan rendah diri. Contoh: “Tidak usah bicara ke Ibu daripada gak dibolehin.”
Mari bersama-sama menjadi orang tua dan orang dewasa yang lebih bijak dalam berbicara. Hentikan ucapan yang membuat anak merasa tidak nyaman. Ganti dengan kalimat yang membangun, jujur, dan penuh kasih sayang.