Serupa Tapi Tak Sama: Sisi Klinis dalam Membedah Gejala DBD dan Tifus pada Anak
- https://www.magnific.com/free-photo/mother-checking-body-temprature-thremoeter_1009038.htm
Kesehatan, VIVA Mindset –Demam tinggi pada anak kerap memicu kecemasan para orang tua. Di Indonesia, Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Tifus (Demam Tifoid) merupakan dua jenis penyakit infeksi yang paling sering menunjukkan gejala awal serupa: demam mendadak, tubuh lemas, hingga penurunan nafsu makan. Meski sepintas mirip, kedua penyakit ini memiliki patofisiologi dan penanganan medis yang sangat berbeda.
Penanganan yang terlambat akibat salah mengenali gejala berisiko fatal. Oleh karena itu, mengenali perbedaan klinis antara DBD dan Tifus sejak dini menjadi langkah krusial dalam memberikan pertolongan pertama yang tepat.
Etiologi dan Perbedaan Pola Demam
Perbedaan mendasar dari kedua penyakit ini terletak pada agen penyebab dan pola perjalanan demamnya. Mengutip ulasan medis dari alodokter.com, DBD disebabkan oleh infeksi virus Dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Gejala khasnya adalah demam tinggi yang muncul secara mendadak (mencapai 39°C–40°C) dan bertahan selama 2 hingga 7 hari. DBD memiliki fase kritis (pola pelana kuda), di mana suhu tubuh mendadak turun di hari ke-3 hingga ke-5, namun justru menjadi fase paling berbahaya karena risiko kebocoran plasma darah.
Sementara itu, melansir panduan medis dari primaku.com, Tifus disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi yang masuk melalui makanan atau minuman terkontaminasi. Karakteristik demam pada tifus tidak muncul mendadak, melainkan meningkat secara bertahap menyerupai anak tangga (staircase pattern) dari hari ke hari dan umumnya memburuk pada malam hari.
Manifestasi Gejala Khas pada Tubuh Anak
Selain pola demam, organ target yang diserang oleh kedua infeksi ini memunculkan respons tubuh yang berbeda. Berdasarkan ulasan dari fakultas kedokteran fk.ui.ac.id, pasien DBD umumnya mengeluhkan nyeri kepala hebat di belakang bola mata, nyeri otot dan sendi, mual, serta tanda perdarahan seperti munculnya bintik merah (petekie) di kulit yang tidak memudar saat ditekan, gusi berdarah, atau mimisan.
Berbeda halnya dengan infeksi bakteri tifoid yang menyerang saluran pencernaan. Gejala yang lebih menonjol pada anak yang terkena Tifus adalah gangguan gastrointestinal seperti nyeri perut, lidah tampak kotor di bagian tengah dengan tepi kemerahan, serta timbulnya konstipasi (sembelit) atau diare.