Mengapa Anak Sering Tantrum? Ini Penjelasan Psikologinya
- https://www.pexels.com/photo/a-mother-and-son-looking-at-each-other-7938240/
Lifestyle, VIVA Mindset –Tantrum merupakan bagian normal dari proses tumbuh kembang anak, terutama pada masa balita. Meski demikian, tidak sedikit orang tua yang menganggap tantrum sebagai bentuk kenakalan atau sikap manja yang harus segera dihentikan. Padahal, dari sudut pandang psikologi perkembangan, tantrum sering kali menjadi cara anak mengekspresikan emosi yang belum mampu mereka sampaikan melalui kata-kata.
Dilansir dari HealthyChildren.org dan UNICEF Parenting, anak usia dini masih berada dalam tahap belajar mengenali, mengelola, dan mengungkapkan perasaan. Karena kemampuan tersebut belum berkembang secara optimal, ledakan emosi menjadi salah satu bentuk respons yang umum terjadi ketika mereka merasa frustrasi, kecewa, atau kewalahan.
Apa Itu Tantrum?
Tantrum adalah ledakan emosi yang ditunjukkan anak melalui berbagai perilaku, seperti menangis keras, berteriak, berguling di lantai, memukul, menendang, hingga melempar barang. Intensitas tantrum dapat berbeda pada setiap anak, tergantung usia, temperamen, dan situasi yang dihadapi.
Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), tantrum paling sering terjadi pada anak usia 1 hingga 4 tahun. Pada rentang usia tersebut, anak sedang mengalami perkembangan pesat dalam berbagai aspek, tetapi kemampuan mengendalikan emosi dan memahami situasi belum sepenuhnya matang.
Kemampuan Mengelola Emosi Anak Belum Berkembang Sempurna
Salah satu penyebab utama tantrum adalah perkembangan otak anak yang masih berlangsung. Bagian otak yang berperan dalam mengatur emosi, mengambil keputusan, dan mengendalikan diri belum berkembang sempurna pada usia balita.
Dilansir dari HealthyChildren.org, kondisi ini membuat anak belum mampu menenangkan diri sebagaimana orang dewasa ketika menghadapi rasa marah, kecewa, atau sedih. Akibatnya, emosi yang muncul sering kali diekspresikan secara spontan melalui tangisan atau teriakan. Hal tersebut merupakan bagian alami dari proses belajar mengelola emosi dan bukan berarti anak memiliki perilaku yang buruk.
Anak Kesulitan Menyampaikan Keinginan
Kemampuan berbahasa anak usia dini masih terus berkembang. Tidak semua anak mampu mengungkapkan apa yang mereka inginkan atau rasakan dengan jelas. Ketika keinginannya tidak dipahami atau tidak dapat disampaikan, anak dapat mengalami frustasi. Menurut UNICEF Parenting, rasa frustrasi tersebut sering menjadi pemicu munculnya tantrum karena anak belum memiliki cara lain untuk mengekspresikan emosinya. Misalnya, anak ingin bermain lebih lama, merasa tidak nyaman, atau menginginkan sesuatu, tetapi belum mampu menjelaskan alasannya kepada orang tua.