Swaplagiarisme, Ini Bedanya dengan Plagiarisme dan Contoh-Contohnya
- freepik.com
Kita pertama-tama mendapatkan keuntungan finansial dari karya terkait, tetapi media atau jurnal juga mendapatkan keuntungan dari karya itu.
Jika kemudian kita melakukan swaplagiarisme karangan tersebut, maka kita sudah melanggar hak ekonomi karya kita yang sudah dialihkan untuk sementara ke media atau jurnal itu.
Ilustrasi uang rupiah.
- Unplash.com
Ini yang kerap tidak kita sadari. Kita misalnya bisa dengan mudah mengatakan bahwa kenapa kita dianggap tidak boleh seenak kita menggunakan atau mengutip karya kita sendiri.
Padahal problemnya itu tadi, swaplagiarisme melanggar hak ekonomi karya kita yang sudah kita alihkan untuk sementara kepada pihak lain.
Maka sementara plagiarisme bisa mencakup karangan-karangan tebal termasuk misalnya skripsi atau bahkan tesis, swaplagiarisme biasanya terjadi pada karangan-karangan kecil.
Sebagai contoh, swaplagiarisme mungkin terjadi pada artikel kita yang sudah dimuat di satu media atau jurnal, kemudian kita edit dan kirim ulang ke artikel atau jurnal lain.
Peristiwa semacam itu semakin mungkin terjadi di masa sekarang yang merupakan era digital.
Selain itu, baik plagiarisme ataupun swaplagiarisme bisa terjadi bukan hanya di ranah akademis, tetapi juga di ranah sastra.
Sebagai contoh plagiarisme sastra, sastrawan sekaligus ulama besar penulis Tafsir Al Azhar, Buya Hamka dulu pernah dituduh melakukan plagiarisme novel oleh pihak Lekra.
Buya Hamka dan Tafsir Al-Azhar Karyanya
- Istimewa
Contoh-contoh yang lebih baru adalah plagiarisme dan swaplagiarisme cerpen, misalnya swaplagiarisme cerpen Risda Nur Widia tahun 2021 dan swaplagiarisme Martin Aleida tahun 2023.
Contoh lainnya adalah plagiarisme cerpen Edy Firmansyah tahun 2022. Dia memplagiat cerpen Iksaka Banu.
Demikian penjelasan ringkas tentang plagiarisme dan swaplagiarisme akademis dan sastra berikut contoh-contohnya, Sobat Mindset.