Kata ‘Maneh’ untuk Seorang Gubernur, Pantaskah?
- freepik.com
Sekarang mari kita lihat, apakah Muhammad Sabil Fadilah sangat akrab dengan Ridwan Kamil?
Ada memang beredar potret mereka saat Muhammad Sabil Fadilah mendukung Ridwan Kamil dalam Pilkada Jabar, tetapi momen tersebut sudah berlangsung lama dan tidak ada gambaran bahwa mereka masih sangat akrab saat komentar kata manéh itu dilontarkan.
Apakah mereka kawan sebaya? Jelas tidak. Muhammad Sabil Fadilah berusia 34 tahun, Ridwan Kamil berusia 51 tahun.
Dengan ini pula sudah jelas bahwa justru Muhammad Sabil Fadilah yang usianya berada di bawah Ridwan Kamil.
Satu hal yang harus dicatat, komentar tersebut dilontarkan di media sosial. Media sosial memang menyediakan dunia semu tempat 3 aturan seperti disebutkan di atas terlihat nihil.
Di media sosial, diiringi dengan spontanitas, lahir kesan bahwa semua orang setara, semua orang sebaya, semua orang akrab.
Dalam dunia semu semacam itu orang kerap lupa etika dan baru terkejut ketika segala kesetaraan tersebut ternyata hanya semu.
Kritik terhadap pemimpin tentu penting, tetapi menjaga etika saat menyampaikan kritik juga sama pentingnya.
Selain itu, untuk menjaga supaya kita tidak terlena dalam dunia semu semacam itu, penting memperhatikan satu kalimat bijak bahwa pikirlah kembali sebelum mengatakan sesuatu.
Ini tentu berlaku juga sebelum kita menulis unggahan atau komentar di media sosial, baik untuk Gubernur Jawa Barat ataupun terhadap orang-orang lain.
Kita tentu tidak boleh lupa bahwa walau bagaimana pun Ridwan Kamil adalah Gubernur Jawa Barat, simbol bapak bagi semua rakyat Jawa Barat.
Ketika kita menyampaikan kritik terhadapnya di ruang publik terkait posisinya sebagai Gubernur Jawa Barat, posisi kita dengannya adalah posisi seorang anak terhadap seorang bapak.
Tentu saja tidak ada kamus mana pun dan tidak ada guru mana pun, honorer ataupun tetap, yang akan mengatakan bahwa mengucapkan kata manéh kepada bapak, saat hanya berdua ataupun apalagi di ruang publik, adalah tindakan sopan.