Childfree ala Gitasav di Momen Mantra Banyak Anak Banyak Rezeki Tak Lagi Ampuh

Ilustrasi Ibu dan Dua Anak
Sumber :
  • Pixabay / mohamed_hassan

MindsetBanyak Anak Banyak Rezeki adalah mantra populer yang pernah sangat ampuh. Akan tetapi jika ditelusuri ke masa beberapa dekade ke belakang, kita juga bisa menalar mengapa pada masa itu mantra tersebut bisa terbukti ampuh. 

img_title Program Magang Nasional Tahun 2026 Diluncurkan, Pemerintah Buka Kuota 150.000 Peserta

Sebagian orang mungkin menautkan keampuhan mantra itu sebagai keajaiban dari Tuhan yang memberi rezeki pada makhluk-Nya. Kita, dengan lebih logis, bisa mengatakan kini bahwa keampuhan mantra itu terjadi karena dukungan momentum dan tempat. 

Sederhananya, mantra tersebut ampuh pada masa ketika apa yang disebut kerja masih sangat tergantung pada bumi dan laut. Kalkulasi sederhana dari masa itu adalah pendapatan seorang petani akan menjadi 2 kali lipat jika dia sudah memiliki anak yang bisa menjual tenaga dan mendapatkan upah sebagaimana bapaknya.

img_title Garuda Academy Year II, Beasiswa untuk Berkarya di Industri Sepak Bola

Petani

Photo :
  • Pixabay / sasint

 
img_title Azza Aprisaufa dan Solusi Kerja untuk Sarjana Masa Kini

Kalkulasi semacam itu, sayangnya, tidak lagi mempan ketika pola kerja berubah digeser oleh industrialisasi. Anak-anak petani generasi industri tidak lagi memandang pekerjaan seperti bapaknya sebagai pekerjaan menarik. Apa yang lebih menarik bagi mereka adalah pekerjaan yang ditawarkan gemerlap kota. 

Maka terjadilah urbanisasi, peristiwa sosial yang pada akhirnya menyebabkan berbagai masalah bukan hanya di kota tetapi juga di desa. Pada titik awal, banyak anak banyak rezeki memang masih berlaku, terutama karena anak-anak para petani itu pun menghasilkan uang di kota. 

Buruh Bangunan di Kota

Photo :
  • freepik.com

Akan tetapi ledakan urbanisasi pada akhirnya menyebabkan persaingan yang makin ketat, jumlah kerja yang tidak sebanding dengan jumlah pencari kerja. Dalam kultur yang memandang kota lebih menarik, bahkan ketika persaingan di kota membuat sebagian anak-anak gagal mendapatkan rezeki, pekerjaan di kampung tetap tidak menarik bagi mereka. 

Hasilnya, di satu sisi mereka berpotensi menjadi pengangguran, satu masalah sosial baru untuk kampung, satu beban tambahan untuk bapak. Di sisi lain, sumber daya manusia di kampung yang tetap harus memproduksi pangan terus berkurang. 

Pada saat yang sama, tenaga sang bapak semakin lemah. Jalur kaderisasi pada generasi sebelumnya, di mana ketika sang bapak semakin lemah maka dia akan digantikan oleh anaknya yang masih kuat, tidak lagi berlangsung. Efeknya, selain pendapatan keluarga berkurang, produktivitas bahan pangan juga menurun, justru pada saat beban hidup bertambah akibat keberadaan anak pengangguran. 

Halaman Selanjutnya
img_title