Sttt! Bidadari Surga itu Childfree dan Mereka Awet Muda Loh
- Pixabay / darksouls1
Mindset –Dalam ajaran Islam, salah satu nikmat yang dijanjikan bagi orang yang masuk surga adalah kehadiran bidadari sebagai pasangan. Bidadari surga digambarkan memiliki fisik dan psikis yang sempurna, tidak memiliki kekurangan-kekurangan yang ada pada manusia dalam kehidupan dunia.
Maka tidak heran jika ajaran Islam meyakini usia para penghuni itu sebaya. Ada hadis nabi yang populer tentang kisah nenek tua yang minta didoakan masuk surga, kemudian Nabi menjawab bergurau bahwa surga tidak mungkin dimasuki oleh nenek-nenek.
Nenek tersebut kemudian menangis. Padahal yang dimaksudkan oleh Nabi adalah jika seorang nenek masuk surga maka dia tidak akan masuk surga sebagai seorang nenek tetapi akan kembali menjadi seorang gadis muda.
Dalam kitab Ibnu Qayyim al-Jauziyyah disebutkan satu hadis Nabi yang mengatakan bahwa usia para penghuni surga itu tiga puluhan tahun (menurut tafsir Ibnu Abbas: 33 tahun) dan akan tetap demikian, tidak ada pengurangan ataupun penambahan. Orang yang masuk surga di bawah ataupun di atas usia itu, seperti si nenek, akan berubah menjadi usia segitu.
Maka, kita bisa mengatakan bahwa bukan hanya para bidadari surga, tetapi memang semua penghuni surga itu awet muda. Terkait para bidadari surga, selain digambarkan memiliki kesempurnaan fisik, mereka juga digambarkan tidak mengalami haid dan selalu perawan.
Apakah bidadari surga punya anak?
Ilustrasi proses hamil dan melahirkan
- freepik.com
Ada hadis yang mengatakan bahwa jika seorang mukmin menginginkan anak di surga, maka kehamilan, kelahiran, dan pertumbuhannya hanya sesaat sebagaimana yang dia inginkan. Akan tetapi hadis tersebut menggunakan pengandaian “jika menginginkan”.
Artinya, bidadari surga memiliki kemampuan dan mungkin untuk melahirkan, tetapi tidak ada keinginan untuk itu. Tafsir yang dikutip dari mufassir Imam Jalaluddin as-Suyuthi ini merupakan tafsir menyatukan pendapat antara ulama yang mengatakan para bidadari di surga hamil dan melahirkan dengan ulama yang mengatakan sebaliknya.
Tafsir tersebut juga dipertegas oleh sabda Nabi bahwa penghuni surga (ahlu al-jannah) tidak beranak di surga. Selain itu, hadis di awal dikomentari oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah sebagai hadis garib, yaitu hadis yang diriwayatkan hanya oleh seorang perawi.