5 Ciri-Ciri Anak Anda Mengalami FOMO
- https://unsplash.com/id/foto/potret-seorang-remaja-laki-laki-yang-sedih-yang-tampak-bijaksana-tentang-masalah-remaja-yang-termenung-depresi-depresi-remaja-nyeri-penderitaan-Xr6FOCwu04I
Parenting, VIVA Mindset –Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) kini tak hanya dialami orang dewasa. Banyak anak dan remaja mulai menunjukkan tanda-tanda takut tertinggal dari teman-temannya, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Di era media sosial, di mana setiap momen dibagikan dan dibandingkan, anak-anak bisa merasa seolah mereka harus selalu “ikut” agar tidak merasa tersisih.
Namun, kapan rasa penasaran itu berubah menjadi sesuatu yang mengganggu? Berikut beberapa ciri-ciri anak yang mungkin mengalami FOMO, seperti dilansir dari Parents.com.
1. Terus-Menerus Mengecek Media Sosial
Anak yang mengalami FOMO biasanya sulit lepas dari gawainya. Mereka sering membuka media sosial hanya untuk melihat apa yang dilakukan teman-temannya tak ingin ketinggalan satu pun kabar, unggahan, atau tren terbaru. Jika dibiarkan, kebiasaan ini bisa mengganggu konsentrasi dan waktu istirahat mereka.
2. Mudah Gelisah Setelah Online
Setelah bermain media sosial, anak justru merasa sedih, cemas, atau murung. Mereka bisa merasa minder karena merasa hidup teman-temannya terlihat lebih seru atau sempurna. Perasaan ini dapat memicu stres ringan hingga menurunkan rasa percaya diri.
3. Sulit Menikmati Momen Sekarang
Anak dengan FOMO sering kali kesulitan menikmati apa yang sedang terjadi di depan mata. Mereka cenderung sibuk memikirkan kegiatan orang lain “Siapa yang lagi hangout?”, “Kenapa aku nggak diajak?”. Akibatnya, momen berharga bersama keluarga atau teman dekat justru terlewat begitu saja.
4. Gangguan Tidur dan Overthinking
Tanda lain yang perlu diwaspadai adalah kesulitan tidur atau sering overthinking tentang hubungan sosial. Anak bisa terlalu memikirkan ajakan, pesta, atau aktivitas yang tidak ia hadiri. Pikiran semacam ini bisa menimbulkan kelelahan emosional dan membuat mereka sulit fokus ke hal lain.
5. Mengukur Diri dari Popularitas
Ketika anak mulai menilai dirinya berdasarkan jumlah teman, undangan, atau ajakan di media sosial, itu tanda bahaya. Rasa percaya diri mereka mulai bergantung pada pengakuan dari luar, bukan pada nilai diri yang sebenarnya. Jika dibiarkan, hal ini bisa berkembang menjadi masalah harga diri jangka panjang.