10 Ungkapan Populer Biasa Dianggap Hadis dan Ternyata Bermasalah
- freepik.com
Jika Sobat Mindset membaca seri novel Balada Si Roy maka dalam novel tersebut juga ada ungkapan ini.
Akan tetapi menurut penelitian Prof. DR. KH Ali Mustafa Yaqub, ungkapan ini bukan hadis, melainkan ucapan seorang dokter dari Sudan.
8. Tidurnya Orang Puasa itu Ibadah
Ilustrasi orang enggan bangun tidur
- freepik.com
Ungkapan ini sangat populer bukan hanya di kalangan santri tetapi juga sudah tersebar ke masyarakat umum.
Ungkapan ini sering dijadikan dalil untuk memperbanyak tidur pada siang hari saat berpuasa, termasuk puasa Ramadan.
Akan tetapi sebagaimana dijelaskan oleh Prof. DR. KH. Ali Mustafa Yaqub, para ulama berkesimpulan hadis tersebut sebagai hadis palsu.
9. Bergembira dengan Datangnya Ramadan
Tradisi Munggahan menjelang Ramadan.
- Istimewa
Bergembira menyambut datangnya bulan Ramadan tentu merupakan tindakan positif, ungkapan semacam itu pula sering terbaca di media sosial.
Akan tetapi sebagian orang kadang menggunakan ungkapan berlebihan yang dikatakan sebagai hadis nabi.
Salah satunya adalah ungkapan yang mengatakan bahwa nabi pernah bersabda jika umatku mengetahui pahala ibadah bulan Ramadan, pasti mereka menginginkan satu tahun penuh menjadi Ramadan semuanya.
Hadis tersebut terdapat di dalam kitab Durrotun Nasihin dan merupakan penggalan dari hadis yang lebih panjang.
Akan tetapi ternyata berdasarkan penelitian para ulama hadis, hadis tersebut merupakan hadis maudhu atau palsu.
10. Kemiskinan itu Mendekati Kekafiran
Ilustrasi Pengemis
- freepik.com
Ungkapan ini merupakan salah satu ungkapan populer para mubalig dan kerap kali dianggap sebagai hadis nabi.
Sayangnya, meski memang ungkapan tersebut merupakan hadis, tetapi ternyata kualitas sanadnya sangat dhaif, mendekati maudhu (palsu).
Dengan demikian, hadis ini tidak boleh dijadikan dalil apa pun, bahkan untuk sekedar fadhailul a’mal atau mendorong amal-amal kebaikan.
Demikian 10 ungkapan populer yang selama ini sering dikutip hadis dan ternyata bukan.
Dalam buku Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub sendiri dimuat total 33 contoh dan masing-masing dibahas dengan mendalam.
Dengan demikian, jika setelah membaca ringkasan ini pembaca ingin menelusuri lebih jauh, dipersilahkan membaca buku terkait.
Semoga belajar dari pengalaman ini kita lain kali menjadi lebih berhati-hati lagi menelusuri jejak status sebuah hadis dan tidak asal latah atau fomo ikut-ikutan.