Iran-AS di Ujung Tanduk Perang Baru
- https://www.aljazeera.com/news/2026/1/13/iran-us-at-possible-precipice-of-renewed-conflict-as-protests-continue
Iran, VIVA Mindset – Tehran, Iran – Ketegangan AS-Iran memuncak di ambang konflik baru pada Selasa, 13 Januari 2026, dengan Presiden Donald Trump pertimbangkan serangan militer atas represi brutal terhadap protes anti-pemerintah yang klaim tewaskan ratusan demonstran, sementara Tehran sita senjata AS dari "militan" dan ancam balas dendam meski Menteri Luar Abbas Araghchi sebut siap dialog.
Protes yang dimulai akhir Desember kini tuntut akhir pemerintahan teokrasi akibat krisis ekonomi, dengan Trump umumkan tarif 25 persen buat negara dagang Tehran.
Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran, mengonfirmasi kesiapan perang tersebut dilansir dari Al Jazeera, Selasa, 13 Januari 2026.
"Iran siap hadapi pilihan militer Washington jika mereka uji tekad kami, tapi harap pilih dialog bijak daripada konflik yang untungkan Israel," katanya dalam wawancara eksklusif.
Ia menambahkan intelijen sita senjata dan bahan peledak AS dari agen teroris di berbagai rumah, tuduh campur tangan asing picu kekacauan.
Karoline Leavitt, juru bicara Gedung Putih, menegaskan opsi militer melalui pernyataannya yang dikutip Al Jazeera.
"Presiden Trump jaga semua pilihan terbuka termasuk serangan udara; diplomasi prioritas tapi rezim Iran bunuh rakyatnya sendiri," tegasnya.
Sementara itu, Mohammad Bagher Ghalibaf pimpin demo pro-pemerintah di Revolution Square dengan slogan "Mati Amerika-Israel".
Krisis ini dorong Iran ke jurang perang kedua dengan AS sejak 2025, dengan korban protes capai 650 jiwa dan 10.000 ditahan menurut aktivis HAM.
Trump umumkan tarif tekan ekonomi Tehran, sementara Garda Revolusi (IRGC) tuduh AS-Israel latih teroris.
Hingga kini, belum ada tanda diplomasi meski Araghchi sebut rekaman suara asing instruksikan serangan polisi dan demonstran.