Sudan 1000 Hari Perang, 33 Juta Kelaparan
- https://www.aljazeera.com/news/2026/1/9/sudan-in-need-of-urgent-aid-as-it-marks-1000-days-of-war-ngos
Sudan, VIVA Mindset – Khartoum, Sudan – Sudan memperingati tonggak tragis 1.000 hari perang saudara pada Jumat, 9 Januari 2026, dengan jutaan penduduk menghadapi ancaman kelaparan ekstrem dan krisis kemanusiaan terburuk di dunia, di mana 33 juta orang berisiko kelaparan akibat pertempuran sengit antara Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dan Pasukan Dukungan Cepat (RSF).
Organisasi bantuan memperingatkan bahwa pendanaan global yang merosot parah memaksa pemangkasan bantuan makanan hingga 70 persen, memperburuk kehancuran sistem kesehatan dan sanitasi di tengah serangan udara serta penjarahan berkelanjutan.
Elsadig Elnour, manajer program senior Islamic Relief di Sudan, mengonfirmasi situasi kritis tersebut dilansir dari Al Jazeera, Jumat, 9 Januari 2026.
“Perang ini tidak boleh berlanjut lagi. Selama 1.000 hari, kami menyaksikan negara tercabik-cabik, warga sipil diserang, kelaparan, dan diusir dari rumah mereka,” katanya.
Ia menambahkan bahwa konflik sejak April 2023 telah menewaskan puluhan ribu orang, mengungsi hampir 12 juta jiwa, dan menempatkan Sudan di puncak daftar darurat global tahun 2026.
Organisasi bantuan seperti International Rescue Committee mengecam kegagalan diplomasi internasional melalui pernyataannya yang dikutip Al Jazeera.
“Konflik ini menghancurkan kehidupan, rumah, dan ekonomi nasional selama satu generasi, dengan kedua faksi dituduh melakukan kejahatan perang termasuk dugaan genosida di Darfur.
Dunia harus segera tingkatkan dana dan akses bantuan tanpa hambatan,” tegasnya.
Sementara itu, warga Darfur utara melaporkan kota-kota seperti Al-Fashir dikuasai RSF dengan kekerasan massal terhadap sipil.
Krisis ini memperdalam penderitaan Sudan, di mana 70 persen populasi bergantung pada bantuan darurat, rumah sakit lumpuh, dan wabah penyakit merebak di kamp pengungsi.
PBB dan LSM mendesak jeda pertempuran serta dukungan finansial mendesak untuk mencegah bencana lebih lanjut.
Hingga kini, belum ada tanda-tanda gencatan senjata meski pertemuan mediasi gagal berulang kali.