Perempuan Sudan Langgar Aturan Tradisional demi Bertahan Hidup

Mabroka Adam, seorang pengungsi Sudan berusia tujuh tahun
Sumber :
  • https://www.aljazeera.com/news/2026/1/25/sudans-women-break-traditional-rules-to-survive

Sudan, VIVA Mindset – Perempuan Sudan di pengungsian seperti Rasha terpaksa ambil peran pria sebagai penebang kayu dan buruh kasar di bawah terik matahari Blue Nile untuk beri makan anak-anaknya pada Minggu 25 Januari2026, tinggalkan norma gender konvensional akibat perang hampir tiga tahun antara militer Sudan dan RSF yang pindahkan 13,6 juta orang serta buat 30 juta jiwa butuh bantuan kemanusiaan dari total populasi 46,8 juta, di mana kondisi kelaparan akut dan krisis gizi parah di Darfur serta Kordofan tambah parah oleh wabah penyakit.​

img_title Model Sudan Selatan Kuasai Dunia Mode Tantang Stereotip

Rasha, ibu pengungsi yang dikutip dari Al Jazeera, Minggu 25 Januari 2026, ungkapkan keputusasaan.

"Kepakaran itu berat, kapak jadi bagian dari saya, tapi tak ada pilihan lain," katanya setelah seharian kerja hanya dapat uang seharga sekantong biskuit untuk beli makanan dan sabun, sambil sebut pakaian sudah putus asa.

img_title Erosi Masa Depan: Berapa Besar Biaya Perang bagi Sudan

Pengalaman Rasha umum di kalangan perempuan yang jadi tulang punggung keluarga di tengah konflik.​

Laporan Save the Children ungkap Sudan alami penutupan sekolah terlama dunia lebih dari 484 hari sejak April 2023, lewati pandemi COVID-19 bahkan di Filipina, dengan 8 juta anak usia sekolah kehilangan pendidikan.

img_title Serangan Drone di Pasar Sudan Tewaskan 11 Orang, Korban Sipil Membludak

Di zona konflik seperti Darfur, hanya 3-15 persen sekolah beroperasi, guru tak digaji berbulan-bulan, sekolah hancur atau jadi tempat pengungsian, tingkatkan risiko rekrutmen geng dan eksploitasi seksual anak.​

Hala Gorashi, CEO Save the Children, tegas "Pendidikan bukan kemewahan, tapi penyelamat jiwa" usai kunjungan ke Sudan.

OCHA laporkan 2.000 keluarga di North Darfur terisolasi akibat perang, kondisi kelaparan di Muglad South Kordofan, sementara UN butuh US$2,9 miliar untuk bantuan tahun ini.

Wartawan Al Jazeera Taher Almardi sebut "Perang tak bedakan anak, wanita, atau lansia; semua sama sengsara".​