Putus Rantai Trauma, Jadi Orang Tua yang Pulih

Pertengkaran orang tua yang disaksikan anak
Sumber :
  • https://www.pexels.com/id-id/foto/rumah-tidak-sehat-menonton-anak-6603348/

Parenting, VIVA Mindset –Menjadi orang tua sering kali menjadi cermin paling jujur bagi luka-luka masa lalu yang kita anggap sudah sembuh. Tanpa sadar, kita sering mengasuh anak-anak, melalui lensa trauma yang dibawa dari generasi sebelumnya. Namun, memutus rantai trauma ini bukanlah tentang menjadi orang tua yang sempurna tanpa cela, melainkan tentang menjadi orang tua yang memiliki keberanian untuk pulih terlebih dahulu, agar anak-anaknya tidak perlu tumbuh dalam menyembuhkan diri dari pengasuhan. 

img_title Vitalnya Nutrisi 1.000 Hari Pertama Kehidupan: Fondasi Emas Pencegah Stunting

Oleh karena itu, perlu mengenali warisan yang tak terlihat. Trauma antar generasi sering kali tidak berbentuk kejadian besar. Ia bisa berupa pola asuh yang kaku, kurangnya validasi emosi, atau kebiasaan menggunakan rasa takut sebagai alat pendisiplinan. Ketika kita dibesarkan dalam lingkungan yang tidak stabil secara emosional, sistem saraf akan terbiasa berada dalam mode bertahan hidup (survival mode).

Bagi pasangan yang baru menikah, masalah mulai muncul saat memiliki anak. Perilaku anak—seperti tangisan, tantrum, atau penolakan, sering kali memicu (trigger) luka lama kita. Jika sebagai orang tua belum pulih, kita cenderung merespons anak bukan berdasarkan kebutuhan mereka saat itu, melainkan berdasarkan luka masa kecil sehingga perlu untuk menyembuhkan diri sendiri. Memutus rantai trauma, tidak dimulai dari mengubah perilaku anak, melainkan dengan membasuh luka orang tuanya. Sebagai orang tua, kita tidak bisa memberikan apa yang tidak dimiliki. Jika tidak memiliki rasa aman dalam diri, maka sulit untuk memberikannya kepada anak. Ada 3 hal yang bisa dilakukan, untuk pelan-pelan menjadi orang tua yang pulih,

img_title Menavigasi Batasan Screen Time di Era Digital: Risiko Speech Delay dan Pentingnya Digital Detox

1. Berdamai dengan Inner Child

Di dalam diri setiap orang tua, ada "anak kecil" yang masih mengingat setiap luka masa lalu. Langkah pertama pemulihan adalah mengenali kebutuhan apa yang tidak terpenuhi di masa kecil kita. Apakah itu rasa aman? Pengakuan? Atau sekadar izin untuk menangis? Dengan menyadari hal ini, kita bisa mulai memberikan validasi tersebut kepada diri sendiri sehingga kita tidak lagi menuntutnya secara tidak sadar dari pasangan, maupun anak.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Mengatasi Tantrum Anak Usia Dini dengan Metode Emotion Coaching