5 Tips Stimulasi Bicara Si Kecil
- https://www.pexels.com/id-id/foto/wanita-perempuan-kaum-wanita-gadis-8519619/
Parenting, VIVA Mindset –Mengomunikasikan pikiran adalah jendela pertama anak untuk mengenal dunia. Namun, bagi sebagian orang tua, melihat si kecil kesulitan merangkai kata bisa menjadi kecemasan yang mendalam. Gangguan berbahasa bukan sekadar keterlambatan bicara biasa, melainkan hambatan dalam memahami atau menggunakan simbol komunikasi yang dapat memengaruhi kepercayaan diri anak hingga masa depannya. Memahami bahwa setiap anak memiliki garis waktu pertumbuhannya sendiri adalah langkah awal yang penting, tetapi memberikan stimulasi yang tepat sejak dini adalah kunci utama untuk membuka potensi mereka.
Gangguan berbahasa merupakan salah satu bentuk kelainan yang membuat seseorang sulit untuk berkomunikasi. Diantara penyebabnya ialah dari faktor medis, faktor fisiologis, dan faktor lingkungan. Pada faktor medis yang dapat terjadi, jika tidak atau kurang berfungsinya sistem syaraf pusat yang disebabkan oleh adanya cidera atau memar. Kemudian faktor fisiologis yang dapat terjadi, jika kondisi organ pendengaran dan organ bicara tidak dapat berfungsi dengan baik dan faktor lingkungan dapat terjadi, jika minimnya interaksi atau stimulasi komunikasi di dalam keluarga yang membuat anak kekurangan model untuk ditiru.
Untuk itu, peran orang tua sangat dibutuhkan dalam mengantisipasi adanya gangguan berbahasa pada anak, berikut 5 tips yang dapat dilakukan,
1. Bangun Komunikasi Intens dan Menyenangkan. Ciptakan interaksi yang menyenangkan sehingga anak juga nyaman saat berbicara. Gunakan nada bicara yang lembut dan berikan jeda agar anak memiliki kesempatan untuk memproses informasi serta menjawab pertanyaan Anda. Jangan lupa berikan pujian atau apresiasi setiap kali ia berusaha mengeluarkan kata. Tanpa disadari, interaksi sederhana ini merupakan terapi bicara alami yang melatih kinerja otaknya.
2. Latihan Oral Motorik. Maksudnya disini ialah melakukan latihan yang melibatkan proses bicara. Anda bisa memberikan aktivitas seru seperti mengajak anak minum menggunakan sedotan, meniup terompet mainan, atau meniup gelembung sabun. Memberikan pijatan lembut pada area wajah dan bibir juga dapat membantu memperkuat otot rahang, bibir, dan lidah, sehingga anak lebih siap memproduksi bunyi yang jelas.
3. Gunakan Terapi Intonasi Melodi. Dilansir dari ensiklomusika.com, USC bekerja sama dengan Los Angeles Philharmonic Association dan Heart of Los Angeles (HOLA) pada tahun 2012 untuk meneliti dampak pengajaran musik pada perkembangan sosial, emosional, dan kognitif balita. Studi tersebut membuktikan bahwa pelajaran musik dapat mempercepat kematangan jalur pendengaran di otak dan meningkatkan efisiensinya. Tak hanya itu, musik juga dapat meningkatkan kecerdasan emosional dan sosial, motorik, dan kemampuan aksara anak dan yang paling penting, musik dapat membantu anak dalam membedakan intonasi, bunyi, dan makna kata, juga untuk ekspresi diri dan komunikasi yang lebih efektif.