Ketika Anak Mulai Membentak, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Bentakan anak bisa menjadi bentuk luapan emosi.
Sumber :
  • https://www.pexels.com/id-id/foto/potret-anak-anak-laki-laki-bocah-laki-laki-13101438/

Parenting, VIVA MindsetPerilaku anak yang mulai membentak orang tua sering memicu kekhawatiran. Tidak sedikit orang tua merasa kaget, tersinggung, bahkan menganggap perilaku tersebut sebagai bentuk kurang ajar. Namun, dari sudut pandang psikologi perkembangan, membentak bukan sekadar persoalan sikap, melainkan sinyal emosi anak yang belum tersalurkan dengan baik.

img_title Benarkah Bayi Lahir Caesar Lebih Mudah Sakit? Ini Penjelasan Medisnya

Pada tahap tertentu, anak masih belajar mengenali, mengelola, dan mengekspresikan perasaan. Ketika kemampuan tersebut belum matang, emosi yang kuat kerap keluar dalam bentuk perilaku verbal yang keras.

Membentak sebagai Ekspresi Emosi

img_title Vitalnya Nutrisi 1.000 Hari Pertama Kehidupan: Fondasi Emas Pencegah Stunting

Anak belum memiliki kosa kata emosional yang cukup untuk menyampaikan rasa kecewa, marah, atau frustrasi secara tenang. Bentakan sering menjadi jalan tercepat bagi anak untuk meluapkan emosi yang terasa terlalu besar untuk ditahan.

Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), anak yang masih dalam tahap perkembangan emosional belum sepenuhnya mampu mengendalikan impuls dan mengekspresikan perasaan secara terkendali karena sistem saraf yang mengatur kontrol emosi belum matang.

img_title Menavigasi Batasan Screen Time di Era Digital: Risiko Speech Delay dan Pentingnya Digital Detox

Pengaruh Lingkungan dan Pola Asuh

Lingkungan memiliki peran besar dalam membentuk cara anak bereaksi terhadap emosi. Anak yang sering melihat bentakan, baik di rumah maupun dari lingkungan sekitar, berpotensi meniru pola komunikasi tersebut.

Selain itu, pola asuh yang terlalu keras atau terlalu permisif juga dapat memicu perilaku membentak. Anak bisa merasa tidak didengar, tidak dipahami, atau justru tidak memiliki batasan yang jelas dalam berkomunikasi.

Kaitan dengan Perkembangan Emosi Anak

Dari sisi kesehatan mental anak, World Health Organization menekankan bahwa perkembangan emosi anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan pengasuhan yang aman, stabil, dan suportif. Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh tekanan atau konflik lebih rentan menunjukkan perilaku agresif secara verbal.

Menurut American Academy of Pediatrics (AAP) melalui HealthyChildren.org, orang tua berperan penting dalam membantu anak mengenali emosi mereka dan belajar mengekspresikannya secara sehat dengan dukungan komunikasi yang konsisten dan penuh empati.

Respons Orang Tua yang Terlalu Reaktif

Ketika anak membentak, respons orang tua yang langsung membalas dengan bentakan atau hukuman keras justru dapat memperburuk situasi. Anak bisa merasa semakin tidak aman secara emosional, sehingga emosi negatif makin sulit dikendalikan.

Halaman Selanjutnya
img_title