Ketika Anak Sedang Berduka? Beginilah Cara Menanggapinya!
- https://www.pexels.com/photo/close-up-photo-of-sad-child-leaning-on-a-wooden-chair-256657/
Parenting, VIVA Mindset – Jika kita lihat di media-media, seringkali kita menyadari bahwa saat anak mengalami kehilangan orang terdekatnya ataupun menyaksikan yang namanya ditinggal manusia tersayang di dunia, anak seringkali ditutup-tutupi dengan kebohongan putih seperti, “ia pergi ke tempat yang lebih baik”, dan tidak dijelaskan secara langsung apakah arti dari kehilangan tersebut. Tetapi mungkin kita mempertanyakan dalam hati, apakah itu tindakan yang benar?
Pada umur anak-anak, banyak yang masih hidup di dunia mereka sendiri. Karena itulah jika dalam kasus kehilangan orang tua mereka sendiri, itu merupakan sesuatu yang sangat sedih, bisa jadi awal mula dari hilangnya kepolosan mereka sebagai anak kecil dan keterpaksaan kepada mereka untuk menjadi dewasa lebih cepat.
Faktanya pada usia berapapun anak tersebut kehilangan orang tuanya, itu tetap akan tergolong sebagai suatu hal yang sangat mengejutkan karena kematian secara konsep adalah sesuatu yang lebih handal dimengerti oleh orang dewasa.
Dilansir dari Psychology Today, menurut psikoterapis Julia Samuel, justru cara terbaik untuk membantu anak-anak yang berdampak atas kehilangan adalah menyadari rasa sakit yang timbul karena kehilangan tersebut. Rasa sakit itulah yang memaksa manusia untuk beradaptasi dan merubah realita yang baru. Pada saat yang bersamaan, dukungan jugalah penting karena itu menentukan apa yang akan menjadi hasil dari rasa kehilangan.
Terkhususnya pada anak sendiri, terkadang sedikit yang mengakui bahwa anak bisa merasakan yang namanya berduka. Fakta bahwa mereka juga perlu dukungan melalui itu dan itu semua tergantung dari kualitas parenting sisi orang tua yang lain.
Samuel pun juga mengingatkan justru dengan memasang topeng berpura kehilangan tidak terjadi akan menyebabkan rasa berduka yang tersimpan mendalam dan akan tertinggal tidak terselesaikan. Jika kita malah menerimanya sebagai hal yang telah terjadi, maka sembuh akan menjadi hal yang jauh lebih memungkinkan.
Saat membicarakan hal sepenting dan seberat ini kepada anak, kembali lagi jangan selalu berharap sebagai orang tua pasti akan selalu mengatakan hal yang benar dan meminat maaf adalah cara yang sehat untuk menunjukkan sebagai orang dewasa kita juga bisa rentan secara emosional. Anak akan mengerti dan berempati. Karena pada dasarnya, rasa berduka bukanlah titik kelemahan dalam hati.