Anak Menentang Batasan? Cara Menghadapi Tantrum dan Penolakan
- https://www.freepik.com/free-photo/pensive-business-father-embracing-is-daughter-before-going-work_25855914.htm
Parenting, VIVA Mindset –Menghadapi anak yang tidak mau menerima batasan bisa bikin lelah secara emosional terutama ketika sudah menetapkan aturan, mengakui perasaannya, tetapi mereka tetap menangis dan marah berkepanjangan. Artikel dari Janet Lansbury membahas fenomena ini dan memberi wawasan tentang cara orang tua dapat memahami serta meresponsnya dengan empati dan ketegasan.
Memahami Penolakan Batasan pada Anak
Anak kecil biasanya bereaksi kuat terhadap batasan karena mereka belum punya keterampilan untuk mengekspresikan atau mengelola perasaan yang muncul ketika keinginannya tidak terpenuhi. Ketika orang tua mengatakan “tidak” — misalnya saat mereka harus bekerja, pergi ke kamar mandi, atau melakukan tugas lain — anak mungkin menolak karena mereka ingin seluruh perhatian orang tua atau karena ingin kontrol penuh terhadap hubungan tersebut. Hal ini bukan sekadar keinginan egois, tetapi cara mereka memperjuangkan kebutuhan emosional yang belum terstruktur sepenuhnya.
Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua
1. Tetapkan batasan dengan jelas dan tegas.
Ucapkan apa yang akan dilakukan dengan bahasa sederhana dan pasti misalnya “Mama akan menutup pagar dan bekerja sekarang.” Menetapkan batasan bukan berarti dingin, tetapi memberi struktur yang aman dan dapat diprediksi.
2. Acknowledge (akui) perasaan mereka.
Saat anak marah, jawab dengan empati seperti: “Aku mendengar kamu tidak ingin aku pergi sekarang.” Lansbury menekankan bahwa orang tua perlu mendengarkan perasaan anak dengan tulus tanpa mengubah keputusan mereka. Ini membuat anak merasa diakui, bukan diabaikan.
3. Siapkan ekspektasi yang realistis.
Untuk masa transisi awal, batasi durasi pekerjaan atau aktivitas yang menjauh dari anak — misalnya 10–15 menit di awal sambil perlahan meningkatkan durasinya seiring waktu. Lansbury sendiri menegaskan bahwa perubahan bukan terjadi seketika, tetapi perlahan sambil membangun “keyakinan batin” bahwa batasan itu benar dan perlu.
4. Biarkan anak mengekspresikan emosinya.
Anak sering menumpahkan berbagai emosi saat batasan diterapkan—bukan semata soal situasi itu, melainkan cara mereka mengolah pengalaman lain dalam hidup. Memandang luapan ini sebagai ekspresi, bukan serangan pribadi, membantu orang tua tetap tenang sekaligus konsisten..