Anak Boleh Memilih, Tapi Apakah Selalu Bisa dan Siap?

Ada situasi di mana pilihan justru membuat anak bingung
Sumber :
  • https://www.freepik.com/free-photo/teen-girl-showing-helpless-gesture-jacket-pink-shirt-looking-discontented_12307689.htm

Parenting, VIVA Mindset – Memberi anak pilihan adalah salah satu cara menunjukkan rasa hormat dan membantu mereka tumbuh sebagai pembuat keputusan percaya diri. Seperti dijelaskan dalam artikel di Janet Lansbury yang mendalam tentang kapan memberi pilihan itu efektif dan kapan tidak, pilihan yang diberikan secara tepat bisa memperkuat rasa kemandirian dan rasa berdaya pada anak. Namun, ada situasi di mana pilihan itu justru membingungkan mereka dan sebetulnya orang dewasa perlu mengambil keputusan.

img_title Vitalnya Nutrisi 1.000 Hari Pertama Kehidupan: Fondasi Emas Pencegah Stunting

Secara umum, memilih membantu anak merasa bahwa pendapat mereka bernilai dan memperkuat sense of agency anak. Bahkan pada bayi pun kita bisa mulai memberikan pilihan sederhana misalnya dengan menempatkan mainan di sekitar mereka, bukan langsung di tangan mereka, sehingga mereka memilih apakah mau meraih atau tidak. Ketika balita, pilihan sederhana seperti apa yang ingin dimainkan atau alat seni mana yang dipakai memberi mereka ruang untuk mengekspresikan diri.

Namun, konteks dan tahap perkembangan menentukan kapan pilihan itu layak diberikan. Lansbury mengingatkan bahwa terdapat pilihan palsu yang terkadang ditawarkan orang tua, seperti, “Apakah kamu mau pergi ke rumah Tante Lisa?” padahal rencana pergi sudah pasti. Ini bukan pilihan nyata dan bisa membingungkan anak karena mereka belum memiliki ruang untuk benar-benar memutuskan. Ketika pilihan tersebut hanya sebuah forma, anak tidak belajar apa-apa selain kebingungan.

img_title Menavigasi Batasan Screen Time di Era Digital: Risiko Speech Delay dan Pentingnya Digital Detox

Pilihan yang Harus Diambil Orang Tua

Beberapa situasi memang bukan kesempatan bagi anak untuk memilih, misalnya saat memenuhi kebutuhan dasar keluarga atau aturan yang sudah disepakati. Pilihan seperti “kita akan pergi sekarang, oke?” terkesan sebagai pilihan, padahal sejatinya hanya meminta persetujuan. Lansbury menekankan bahwa kejelasan dan kejujuran dalam pilihan jauh lebih baik daripada sekadar memberi ilusi kontrol.

img_title Mengatasi Tantrum Anak Usia Dini dengan Metode Emotion Coaching

Situasi transisi juga sering kali bukan saat yang tepat untuk memberi pilihan besar. Pergi dari rumah atau bersiap tidur bisa membuat anak kewalahan karena perubahan aktivitas membebani sistem mereka. Pada masa transisi ini, terlalu banyak pilihan justru memicu penundaan atau kebingungan, karena otak anak belum siap mengerjakan banyak keputusan sekaligus. Dalam kondisi seperti ini, pilihan kecil seperti jalan ke mobil atau digendong dapat disediakan, tetapi orang tua perlu siap membantu segera jika anak terhenti.

Halaman Selanjutnya
img_title