5 Tips Membangun Abundance Mindset pada Remaja Tanpa Membuat Mereka Manja

Ilustrasi remaja berbelanja bersama teman
Sumber :
  • https://unsplash.com/id/foto/dua-wanita-berswafoto-dengan-tas-belanja-SdkqnFwqoRQ

Parenting, VIVA MindsetDi tengah dunia yang kerap menekankan “lebih” dalam hal materi, status, dan prestasi, membesarkan remaja dengan rasa cukup dan punya mindset melimpah (abundance) bisa jadi tantangan tersendiri. Pakar psikologi klinis Brian Razzino, PhD, menekankan bahwa abundance bukan soal memberikan segala yang bisa diinginkan anak kita, tapi lebih kepada menumbuhkan rasa kepercayaan diri, koneksi emosional, dan nilai diri dari dalam.

img_title Penerapan Pengasuhan Positif dalam Membentuk Karakter dan Perkembangan Otak Anak Usia Dini

Abundance mindset pada remaja berarti mereka merasa punya cukup baik dari sisi emosi, kesempatan, maupun relasi meskipun tidak selalu punya “segala-galanya”. Razzino menjelaskan bahwa ketika orang tua buru-buru menenangkan rasa tidak nyaman remaja dengan membeli barang atau mengalihkan dengan gadget, sebenarnya kita mengajarkan bahwa ketidaknyamanan harus ditutupi atau dihindari. Itu bukan abundance, tapi avoidance.

Dilansir  dari Parents.com berikut strategi praktis untuk orang tua membangun Abundance pada anak.

img_title Mengubah Pola Pengasuhan Anak Remaja: Menjadi Mentor dan Membangun Kemandirian Masa Depan

1.      Fokus Pada Usaha, Bukan Hanya Hasil

Alih-alih mengatakan “Kamu sangat pintar!”, katakan “Saya lihat bagaimana keras usahamu menyelesaikan tugas itu” hal ini membantu membangun growth mindset, di mana kegagalan adalah bagian dari belajar, bukan sesuatu untuk dihindari.

img_title Benarkah Bayi Lahir Caesar Lebih Mudah Sakit? Ini Penjelasan Medisnya

 

2.      Ritual Rasa Syukur Sehari-hari

Ritual sederhana seperti “sebutkan satu hal yang kamu syukuri hari ini” atau menyimpan “grateful jar” bisa menggeser fokus remaja dari apa yang mereka tidak punya menjadi apa yang sudah mereka miliki. Studi menunjukkan bahwa praktik ini membantu tidur lebih nyenyak dan kecemasan yang lebih rendah.

 

3.      Beri Pilihan yang Sesuai Usia

Memberi remaja pilihan (selama masih dalam batas aman) membantu mereka merasa punya kontrol, dipercaya, dan berarti. Ini bukan soal “bebas tanpa batas”, melainkan bimbingan dengan tanggung-jawab.

 

4.      Koneksikan Nilai Diri Bukan Hanya Prestasi

Remaja perlu merasa bernilai meskipun mereka belum menang atau belum mendapat pujian besar. Orang tua bisa menanyakan, “Apa yang kamu pelajari dari tantangan itu?” bukan hanya “Kenapa nilai kamu belum A?”. Ini membantu membangun dasar nilai diri yang tahan banting.

 

5.      Orang Tua Jadi Model Nyata

Anak-anak lebih banyak belajar dari apa yang Anda lakukan daripada apa yang Anda katakan. Ketika Anda menunjukkan emosi dengan cara sehat misalnya mengakui kesalahan atau meminta waktu tenang, Anda memberi contoh bagaimana abundance dalam emosi dan hubungan dibentuk dari dalam.

Halaman Selanjutnya
img_title