Awas, Bahaya Tersembunyi di Balik Keinginan Sempurna

Biarkan anak bahagia tanpa dibanding-bandingkan
Sumber :
  • https://unsplash.com/id/foto/potret-tampilan-depan-dua-gadis-kecil-berdiri-di-luar-ruangan-di-alam-musim-semi-tertawa-W0m1r7SFkPw

Parenting, VIVA MindsetSering merasa "tidak cukup baik"? Selalu membandingkan diri dengan orang lain? Merasa gagal menjadi orang tua yang baik? Atau sering membandingkan kekurangan anak dengan anak lain?

img_title Memahami Akar Masalah Kehilangan Motivasi Belajar Anak

 

Penyebab Anak Rendah Diri

img_title Wajib Tahu! Cara Asyik Ajari Anak Menulis dan Berhitung

 

Waspada, pikiran ini mungkin menunjukkan kamu terperangkap dalam jerat “ingin serba sempurna” (perfeksionisme) dan ketakutan menjadi "biasa saja" atau mediocre, yang dikenal sebagai Koinoniphobia.

img_title Seni Mengajar Tanpa Membuat Anak Tertekan

 

​Dilansir dari akun Instagram @tentanganak_id yang ditinjau oleh Grace Eugenia Sameve, M.A, M.Psi, Psikolog, ​perfeksionisme berakar dari rumah. Ekspektasi orang tua yang terlalu tinggi bisa menjadi pemicunya. Anak merasa harga dirinya diukur dari pencapaian. Mereka takut akan penilaian dan penolakan jika gagal. Akhirnya, rasa percaya diri anak jadi rendah dan insecure muncul.

 

​Contoh, seorang mahasiswa begadang demi nilai A. Dia merasa harga dirinya hanya sebatas IPK tinggi. Jika nilainya B, dia merasa gagal total. Dia khawatir orang tua kecewa. Dia juga terus memantau pencapaian teman-temannya. Anggapan semacam ini memicu perasaan tidak dapat menghadapi tuntutan dan stres berkepanjangan.

 

Tingginya Angka Stres

 

​Studi menunjukkan, tingkat stres di Indonesia tergolong tinggi di ASEAN. Bahkan, 21% Gen Z Indonesia sering merasa tidak berguna. Perfeksionisme menciptakan perasaan takut salah. Kondisi ini membuat anak sangat kritis pada diri sendiri. Banyak anak cemas berlebihan atas setiap kesalahan kecil. Keadaan in adalah epidemi tersembunyi yang menjadi bumerang.

 

​Keberhasilan sejati bukan hanya kecerdasan. Tumpukan balok kesuksesan harus diisi dengan: usaha, rasa ingin tahu, mencoba lagi, dan berusaha terus. Fokus saja pada proses. Bukan hanya pada hasil akhir.

 

Berhenti Membandingkan

 

​Kita semua adalah sempurna dalam ketidaksempurnaan (menerima diri apa adanya). Tidak masalah menjadi "biasa saja". Cukup baik sudah benar-benar cukup. Rasa rendah hati yang tulus tumbuh saat kita menerima diri apa adanya.

 

​Mulailah ubah fokus. Berhenti membandingkan. Hargai setiap proses dan usahamu. Berhenti menuntut kesempurnaan yang tidak realistis. Biarkan anak tumbuh merasa 'cukup' dan bersyukur dalam kesederhanaan. Ini adalah kunci ketenangan dan kebahagiaan. Bebaskan diri dari rantai tuntutan mediocre.

Halaman Selanjutnya
img_title