5 Trik Atasi Anak Berkata Kasar
- https://unsplash.com/photos/two-happy-little-sisters-hugging-outdoors-in-a-patio-in-autumn-mother-and-grandmother-at-background-NtPiRZuYdfQ
Parenting, VIVA Mindset –Moms, pernahkah tiba-tiba anak mengucapkan kata-kata yang tidak pantas? Reaksi spontan kita mungkin marah atau kaget. Padahal, kata-kata kasar dari anak sering kali bukan karena mereka "nakal." Ini adalah cerminan dari proses belajar bahasa mereka.
Kenapa Anak Berkata Kasar?
Dilansir dari akun Instagram @motherandbeyond_id, penelitian dari Child Development (2018) menyebutkan bahwa anak usia 3-6 tahun sedang berada di tahap eksplorasi bahasa. Mereka meniru apa yang didengar tanpa mengerti maknanya.
Bayangkan anak Moms sedang asyik bermain. Tiba-tiba, baloknya jatuh dan ia keceplosan meniru kata "sialan" atau makian lain yang ia dengar dari tontonan di TV atau temannya. Dalam benaknya, ia hanya mengulang bunyi yang menarik. Ia belum mengerti bahwa kata itu menyakiti atau tidak sopan.
Langkah Tepat Mengatasi Anak Berkata Kasar
Kita perlu mengubah momen ini menjadi ruang belajar, bukan sekadar momen memarahi. Berikut 5 langkah efektifnya:
- Jangan langsung marah. Tahan emosi Moms. Marah hanya akan membuat anak bingung dan takut.
- Tanyakan sumbernya. Tanyakan dengan lembut, "Kamu dengar kata itu di mana?" Ini membantu Moms memahami konteks dan sumber kata tersebut. Sumbernya bisa dari media, teman, atau lingkungan rumah.
- Jelaskan makna kata kasar. Duduklah bersama anak. Bantu ia mengerti arti kata tersebut. Jelaskan juga dampaknya pada perasaan orang lain. Studi dari American Psychological Association menunjukkan bahwa dialog tentang perasaan dan konsekuensi, membantu anak belajar empati.
- Jelaskan konsekuensinya. Beri tahu anak bahwa menggunakan kata-kata seperti itu dapat menyakiti hati teman atau orang lain. Ini dapat membuat orang lain tidak nyaman berada di dekatnya.
- Ajarkan cara bicara sopan. Beri anak contoh. Modeling adalah cara belajar paling efektif. Tunjukkan cara mengungkapkan frustrasi atau kekesalan dengan kata-kata yang positif dan membangun. Misalnya, alih-alih "menyebalkan!" ajarkan mereka bilang, "Aku kesal karena ini tidak berhasil."
Moms, komunikasi adalah kunci. Anak belajar meniru perilaku orang dewasa yang mereka kagumi. Semakin kita mencontohkan komunikasi positif, semakin anak belajar menggunakan kata-kata untuk membangun, bukan untuk melukai. Mari jadikan setiap kesalahan anak sebagai peluang berharga untuk menanamkan empati dan sopan santun.