Indonesia Peringkat 3 Dunia Fenomena Fatherless, Begini Cara Mengatasinya

Peranmu sebagai ayah tidak bisa tergantikan oleh siapa pun
Sumber :
  • https://www.freepik.com/free-photo/asian-man-little-girl-having-fun-summer-park-joyful-father-holding-smiling-daughter-his-back-walking-park-spending-weekend-together-childhood

Parenting, VIVA Mindset –Tahukah kamu bahwa Indonesia menempati peringkat ketiga dunia untuk fenomena fatherless? Ya, meski terdengar mengejutkan, fakta ini terungkap dari berbagai penelitian dan pengamatan di lapangan. Fatherless bukan berarti tidak ada ayah secara fisik, tapi lebih kepada ketiadaan peran ayah secara emosional dan psikologis dalam kehidupan anak.

img_title Benarkah Bayi Lahir Caesar Lebih Mudah Sakit? Ini Penjelasan Medisnya

Ustaz Bendri Jaisyurrahman, seorang praktisi keayahan Islami yang telah menangani konseling anak sejak 1998, mengungkapkan realitas memprihatinkan ini. Menurutnya, banyak anak Indonesia merasa yatim meski ayahnya masih hidup dan tinggal satu rumah. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Ayah Hadir Fisik, Tapi Absen Secara Emosional

img_title Vitalnya Nutrisi 1.000 Hari Pertama Kehidupan: Fondasi Emas Pencegah Stunting

Pernahkah kamu merasa bahwa peran ayah di rumah hanya sebatas pemberi nafkah dan pemberi izin? Jika ya, mungkin kamu juga mengalami atau bahkan tanpa sadar menciptakan situasi fatherless di keluargamu sendiri.

Banyak ayah di Indonesia yang sibuk bekerja hingga lupa bahwa anak membutuhkan lebih dari sekedar uang. Anak butuh waktu berkualitas, percakapan yang bermakna, dan kehadiran emosional ayah dalam momen-momen penting mereka. Akibatnya, anak tumbuh dengan perasaan hampa meski kebutuhan materinya terpenuhi.

img_title Menavigasi Batasan Screen Time di Era Digital: Risiko Speech Delay dan Pentingnya Digital Detox

Dampak Nyata yang Mengkhawatirkan

Dari pengalaman konseling selama puluhan tahun, Ustaz Bendri menemukan pola yang mengejutkan. Masalah-masalah serius seperti penyimpangan seksual, kecanduan narkoba, hingga kenakalan remaja, akar permasalahannya sering kembali pada hubungan ayah-anak yang renggang.

Bayangkan saja, ada berapa banyak ayah yang tahu kapan anak laki-lakinya mengalami mimpi basah pertama? Atau berapa banyak ayah yang pernah duduk bersama anaknya membicarakan perubahan yang terjadi saat pubertas? Sangat sedikit, kan?

Ketika anak tidak bisa terbuka dengan ayahnya, mereka akan mencari jawaban di tempat lain - internet, teman sebaya, atau bahkan orang asing. Di sinilah bahaya mulai mengintai. Tanpa bimbingan yang tepat dari ayah, anak rentan terpapar konten negatif atau bahkan menjadi korban predator.

Belajar dari Teladan Nabi dalam Al-Qur'an

Al-Qur'an memberikan contoh indah tentang komunikasi ayah-anak melalui kisah Nabi Ya'kub dan Nabi Yusuf. Perhatikan bagaimana Nabi Yusuf dengan mudah menceritakan mimpinya - hal yang sangat pribadi - kepada sang ayah. Ini menunjukkan adanya kepercayaan dan kelekatan emosional yang kuat.

Halaman Selanjutnya
img_title