Hindari Manipulasi Emosi Anak
- https://pixabay.com/id/photos/bayi-tangan-jari-anak-ayah-induk-2416718/
Parenting, VIVA Mindset –Ada banyak cara orang tua untuk menyayangi anak. Terkadang tanpa sadar orang tua menggunakan cara yang bercanda atau menyindir. Misalnya ketika kamu mengucapkan kalimat demikian, "Mama capek kerja buat kamu. Masa kamu tidak nurut?" atau "Lihat, kakakmu lebih pintar. Kamu kok gitu sih?"
Kalimat-kalimat itu mungkin terdengar biasa. Sering kamu dengar dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, sering dianggap sebagai cara mendidik anak agar menuruti kemauanmu. Namun, sadarkah kamu? Kalimat-kalimat itu ternyata bentuk manipulasi emosi anak.
Manipulasi emosi, dilansir dari @parentingasyik di Instagram, adalah saat orang tua atau orang dewasa sengaja mengendalikan perasaan anak. Tujuannya agar anak menuruti kemauan mereka. Cara ini sering dilakukan lewat perkataan. Disampaikan orang tua atau orang dewasa dalam bentuk canda atau sindiran. Anak dibuat merasa bersalah, takut, atau tidak berharga.
Contoh Kalimat Manipulasi Anak
Cermati kalimat berikut. Semoga tidak banyak, bahkan tidak kamu ucapkan pada anak.
- Membandingkan anak: "Kakakmu rajin sekali. Kenapa kamu tidak bisa?"
- Membuat anak merasa bersalah: "Ayah sedih kalau kamu nakal."
- Mengancam anak dengan cinta: "Kalau kamu tidak mau makan, Ayah tidak sayang lagi."
- Mendiamkan anak (silent treatment): Orang tua tidak mengajak bicara saat marah. Ini membuat anak merasa bersalah.
- Memberi anak label negatif: "Dasar anak malas!"
Dampak Jangka Panjang yang Menghantui
Manipulasi emosi bisa berdampak serius. Anak akan tumbuh dengan rasa tidak aman. Mereka merasa tidak cukup dicintai. Kepercayaan diri anak akan rendah. Hubungan dengan orang tua bisa rusak perlahan. Puncak yang paling menyedihkan, anak bisa kehilangan kepercayaan pada orang tua.
Anak-anak belum bisa membedakan candaan dan sindiran. Mereka hanya menyimpan perasaan itu dalam diri mereka. Yuk, berhenti bercanda dengan cara yang salah.
Jadilah orang tua yang mendidik dengan kasih sayang. Bukan dengan ancaman atau rasa bersalah. Mari kita bangun hubungan yang sehat dengan anak. Kita bimbing mereka menjadi pribadi yang kuat dan bahagia.