Mengapa Ayah Harus Berperan Aktif saat Anak Memasuki Pubertas
- https://www.freepik.com/free-photo/father-with-his-family-outdoors_4093645.
Parenting, VIVA Mindset –Pernahkah kamu merasa bingung ketika melihat perubahan pada anakmu yang mulai memasuki masa pubertas? Emosi yang naik turun, pertanyaan-pertanyaan aneh yang tiba-tiba muncul, atau bahkan sikap yang mulai berbeda dari biasanya. Jangan khawatir, kamu tidak sendirian menghadapi hal ini.
Menurut Elly Risman, Psi, seorang pakar parenting, masa pubertas bukan hanya soal perubahan fisik. Ini adalah momen penting di mana anak beralih dari masa kanak-kanak menuju kedewasaan, baik secara fisik, mental, maupun spiritual. Yang menarik, ternyata peran ayah sangatlah krusial dalam fase ini, bahkan untuk anak perempuan sekalipun.
Pubertas Datang Lebih Cepat dari Yang Kita Kira
Di zaman sekarang, jangan heran jika anakmu mulai menunjukkan tanda-tanda pubertas di usia 8-9 tahun. Elly Risman menjelaskan bahwa ini terjadi karena dua faktor utama: gizi yang lebih baik dan rangsangan dari lingkungan, terutama gadget.
Bayangkan saja, anak-anak sekarang sudah terpapar berbagai informasi digital sejak dini. Hal ini merangsang hormon mereka sehingga pubertas bisa terjadi lebih awal. Makanya, kamu perlu mulai mempersiapkan diri dan anak sejak mereka berusia 7-8 tahun.
Mengapa Ayah Harus Terlibat Aktif?
Selama ini, mungkin kamu berpikir bahwa urusan pubertas adalah domain ibu. Tapi tunggu dulu! Ternyata, ayah memiliki peran yang tidak kalah penting, bahkan untuk anak perempuan.
Ayah bukan hanya pencari nafkah, tapi juga figur teladan yang membentuk karakter anak. Ketika ayah hadir secara emosional dan memberikan dukungan, anak akan merasa lebih aman menghadapi perubahan yang terjadi pada dirinya. Ini juga mencegah munculnya fenomena fatherless yang kini banyak terjadi.
Tips Praktis untuk Ayah dalam Mendampingi Anak
1.     Mulai Komunikasi Sejak Dini
Jangan tunggu sampai tanda-tanda pubertas muncul. Mulailah berbicara tentang perubahan tubuh dengan bahasa yang sederhana dan sesuai usia anak. Misalnya, kamu bisa menjelaskan bahwa "nanti tubuhmu akan berubah dan itu hal yang normal."
2.     Terima Emosi Anak Tanpa Menghakimi
Ketika anakmu tiba-tiba marah atau sedih tanpa alasan yang jelas, jangan langsung memarahi. Coba katakan, "Ayah lihat kamu sedang kesal. Mau cerita tidak?" Validasi perasaan mereka terlebih dahulu sebelum mencari solusi.