Makna Ending Twenty Five Twenty One dan Alasan Kisahnya Sulit Dilupakan

Para pemeran utama dalam drama Twenty Five Twenty One.
Sumber :
  • https://www.soompi.com/article/1605022wpp

Drakor, VIVA MindsetMeski telah tamat sejak 2022, drama Korea Twenty Five Twenty One masih sering menjadi perbincangan hingga sekarang. Salah satu alasan utamanya adalah ending yang berhasil meninggalkan kesan mendalam bagi penonton. Banyak yang mengaku sulit melupakan kisah cinta Na Hee Do dan Baek Yi Jin karena berakhir tidak seperti harapan kebanyakan penonton.

img_title 100 Days of Deception, Drama Spionase Era Kolonial Berbalut Romansa Park Jinyoung dan Kim Youjung

Alih-alih menghadirkan akhir yang bahagia, Twenty Five Twenty One justru memilih menggambarkan kenyataan bahwa tidak semua hubungan berakhir dengan kebersamaan. Dilansir dari tvn.cjenm.com, drama ini memang mengangkat tema tentang masa muda, mimpi, pertumbuhan, dan perubahan yang terjadi seiring berjalannya waktu.

 

img_title Do Not Cross the Wall, Drama Romansa Remaja Terbaru Netflix dengan Empat Pemeran Utama

Ending yang Mengundang Beragam Emosi

Sejak episode terakhir tayang, banyak penonton merasa sedih sekaligus terkejut karena Na Hee Do dan Baek Yi Jin tidak berakhir bersama. Padahal, keduanya telah melewati berbagai rintangan, mulai dari krisis ekonomi, tekanan pekerjaan, hingga hubungan jarak jauh.

img_title 'Dream To You' Resmi Tamat, Tim Produksi Bagikan Foto Behind The Scene Manis

Menurut netflix.com, hubungan mereka perlahan mulai berubah ketika Baek Yi Jin semakin sibuk sebagai reporter. Tuntutan pekerjaan membuat keduanya semakin sulit meluangkan waktu, hingga akhirnya memilih mengakhiri hubungan meski masih saling mencintai.

Keputusan tersebut terasa menyakitkan karena tidak ada sosok ketiga maupun konflik besar yang menghancurkan hubungan mereka. Yang memisahkan keduanya justru perubahan prioritas hidup dan keadaan yang terus berkembang.

 

Makna Sebenarnya di Balik Perpisahan

Ending drama ini sebenarnya ingin menunjukkan bahwa cinta tidak selalu cukup untuk mempertahankan sebuah hubungan. Seiring bertambahnya usia, setiap orang memiliki tanggung jawab, impian, dan jalan hidup yang bisa saja berbeda.

Dilansir dari tvn.cjenm.com, penulis naskah Kwon Do Eun ingin menggambarkan proses pendewasaan para karakter, termasuk kenyataan bahwa hubungan yang sangat berarti pun bisa berakhir ketika waktu membawa mereka ke arah yang berbeda.

Perpisahan Na Hee Do dan Baek Yi Jin bukan berarti mereka gagal mencintai satu sama lain. Justru, hubungan tersebut menjadi bagian penting yang membentuk pribadi mereka hingga dewasa.

 

Buku Harian Jadi Simbol Kenangan

Salah satu adegan yang paling membekas adalah ketika Na Hee Do kembali membaca buku hariannya bertahun-tahun setelah semua peristiwa berlalu. Buku harian tersebut menjadi pengingat akan masa muda yang penuh semangat, persahabatan, dan cinta pertama yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan.

Menurut netflix.com, kehadiran buku harian bukan hanya berfungsi sebagai alat penceritaan, tetapi juga menjadi simbol bahwa kenangan indah tetap memiliki tempat meski seseorang telah melanjutkan hidupnya.

Melalui buku harian itu pula penonton diajak melihat kembali perjalanan panjang para karakter dari sudut pandang yang lebih dewasa.

 

Mengapa Ending Ini Sulit Dilupakan?

Banyak drama romantis memilih memberikan akhir bahagia agar memuaskan penonton. Namun, Twenty Five Twenty One justru mengambil jalan yang berbeda.

Dilansir dari soompi.com, keputusan tersebut membuat drama ini terasa lebih realistis. Tidak sedikit penonton yang merasa kisah Na Hee Do dan Baek Yi Jin mencerminkan pengalaman nyata, ketika dua orang saling mencintai tetapi tidak bisa terus bersama karena perubahan hidup.

Selain itu, chemistry antara Kim Tae Ri dan Nam Joo Hyuk membuat hubungan kedua karakter terasa begitu alami. Hal inilah yang membuat penonton ikut larut dalam perjalanan mereka sejak awal hingga akhir.

 

Drama yang Lebih dari Sekadar Kisah Cinta

Meski sering dikenang karena ending-nya, Twenty Five Twenty One sebenarnya tidak hanya bercerita tentang romansa. Drama ini juga mengangkat persahabatan, keluarga, mimpi, kegagalan, dan semangat mengejar cita-cita di tengah krisis ekonomi Korea Selatan pada akhir 1990-an.

Menurut tvn.cjenm.com, pesan utama drama ini adalah bahwa masa muda bukanlah tentang kesempurnaan, melainkan keberanian untuk mencoba, gagal, bangkit, dan terus melangkah meski harus kehilangan sesuatu yang berharga.

Karena itulah ending Twenty Five Twenty One masih sering dibahas hingga sekarang. Meski meninggalkan rasa sedih, akhir cerita tersebut justru mengingatkan bahwa tidak semua kenangan indah harus berakhir dengan kebersamaan. Terkadang, seseorang tetap menjadi bagian terpenting dalam hidup meski akhirnya memilih berjalan di jalan yang berbeda.