Emotional Coaching, Cara Sederhana Membantu Anak Mengenali Emosinya
- https://www.pexels.com/id-id/foto/fotografi-close-up-bayi-759736/
Parenting, VIVA Mindset –Tidak sedikit orang tua yang langsung berusaha menghentikan tangisan anak dengan mengatakan, "Sudah, jangan nangis," atau "Enggak usah sedih." Respons tersebut biasanya muncul karena orang tua ingin anak segera tenang. Namun, tanpa disadari, anak justru kehilangan kesempatan untuk memahami apa yang sedang dirasakannya.
Padahal, setiap momen ketika anak marah, kecewa, takut, atau sedih dapat menjadi kesempatan bagi orang tua untuk membantu anak belajar mengenali emosinya. Pendekatan ini dikenal sebagai emotional coaching, yaitu cara orang tua mendampingi anak agar mampu memahami, mengekspresikan, dan mengelola emosinya dengan lebih sehat.
Menurut penelitian Emotion Coaching oleh Ibu pada Anak Prasekolah karya Yettie Wandansari, emotional coaching merupakan bagian dari teori parental meta-emotion yang dikembangkan oleh John Gottman dan kolega. Dalam pendekatan ini, orang tua tidak hanya membantu anak menghadapi emosinya, tetapi juga perlu menyadari emosi yang dirasakan oleh dirinya sendiri.
Apa itu Emotional Coaching?
Emotional coaching adalah pendekatan pengasuhan yang membantu anak mengenali, memahami, dan mengelola berbagai emosi yang dirasakannya, terutama emosi negatif seperti marah, sedih, kecewa, atau takut.
Pendekatan ini berangkat dari pemahaman bahwa semua emosi merupakan bagian alami dari kehidupan. Oleh karena itu, tujuan orang tua bukan menghilangkan emosi negatif anak, melainkan membimbingnya agar mampu merespons emosi tersebut dengan cara yang tepat. Ketika anak merasa dipahami, ia akan lebih mudah belajar mengenali apa yang sedang dirasakan sekaligus menemukan cara yang sehat untuk menenangkan dirinya.
Mengapa Emotional Coaching Penting?
Masa kanak-kanak merupakan periode penting dalam perkembangan emosi. Pada usia prasekolah, anak mulai belajar mengenali berbagai emosi, memahami penyebabnya, hingga mengatur cara mengekspresikannya.
Kemampuan tersebut tidak berkembang secara otomatis. Anak mempelajarinya melalui pengalaman sehari-hari, terutama saat berinteraksi dengan orang tua. Komunikasi yang hangat mengenai emosi membantu anak merefleksikan perasaannya, memahami penyebab munculnya emosi, serta belajar melihat konsekuensi dari setiap respons yang diberikan.
Jurnal tersebut juga mengutip sejumlah penelitian yang menunjukkan bahwa emotional coaching berkaitan dengan kemampuan regulasi emosi yang lebih baik pada anak. Bahkan, pendekatan ini dinilai bermanfaat bagi anak yang berasal dari keluarga berisiko maupun yang pernah mengalami pengalaman traumatis.