Kenali Tanda Kecemasan Berlebihan Anak Sejak Dini
- https://www.klikdokter.com/ibu-anak/kesehatan-anak/depresi-pada-anak-apa-gejalanya?srsltid=AYCX9vLv-G6gFqyXk2crDx3pNRLpLZIOeEW9UqS3TCzcw0wUD7_E67ya
parenting, VIVA Mindset –Kesehatan mental anak dan remaja kerap kali luput dari perhatian publik karena manifestasinya yang tidak selalu terlihat jelas di permukaan. Banyak orang tua menganggap perubahan suasana hati pada anak sekadar fase emosi biasa atau bentuk sifat manja. Padahal, data rilis Pengurus survey serta data publikseperti depresi dan kecemasan berlebihan (anxiety) yang kian mengintai generasi muda.
Berdasarkan data survei kesehatan jiwa, sekitar 2 persen anak dan remaja usia 15–24 tahun di Indonesia terbukti mengalami depresi. Hal yang amat memprihatinkan, 61 persen dari kelompok anak muda yang mengalami depresi tersebut dilaporkan pernah berpikiran untuk mengakhiri hidup. Mirisnya lagi, hanya sekitar 10,4 persen dari mereka yang mendapatkan akses penanganan medis profesional. Tingkat kesadaran masyarakat yang rendah serta penanganan yang lambat berisiko merusak masa depan dan tumbuh kembang anak.
Realita Gejala Dini Depresi dan Kecemasan pada Anak
Mengenali sinyal emosional sejak dini adalah kunci utama pencegahan. Gejala depresi dan kecemasan pada anak memiliki manifestasi yang sedikit berbeda jika dibandingkan dengan penderita dewasa. Survey menyoroti bahwa pada anak-anak, depresi sering kali hadir dalam bentuk sifat mudah marah (iritabilitas) atau kebencian yang meledak-ledak alih-alih ekspresi kesedihan yang emosional.
Beberapa ciri utama gejala dini depresi pada anak meliputi:
- Perubahan Perilaku dan Kehilangan Minat: Anak mendadak kehilangan ketertarikan pada hobi atau aktivitas yang tadinya sangat mereka gemari. Anak kerap menarik diri dari pergaulan teman sebaya dan mengurung diri.
- Penurunan Rasa Percaya Diri: Timbul perasaan minder yang berlebihan, merasa tidak berdaya, tidak berguna, atau memikul rasa bersalah yang tidak beralasan.
- Gangguan Fisik dan Tidur: Kelelahan kronis tanpa sebab, gangguan pola tidur (insomnia berat atau terlalu banyak tidur), serta drastisnya penurunan nafsu makan.
Sementara itu, kecemasan berlebihan (anxiety disorder) kerap ditunjukkan lewat gejala psikosomatis atau respons fisik. Anak-anak yang mengalami cemas kronis sering mengeluhkan sakit perut, mual, atau pusing yang berulang tanpa penyebab medis organik yang jelas. Tubuh mereka kerap mengeluarkan keringat dingin, jantung berdebar kencang, gelisah tak berkesudahan, hingga terus-menerus meminta penenangan (reassurance) dari orang lain.