5 Statemen Keliru dan Konyol tentang AA Navis dan Karyanya
- Design: MindsetVIVA
Sudah umum diketahui bahwa nama lengkap AA Navis adalah Ali Akbar Navis. Hal tersebut juga sebagaimana ditulis oleh HB Jassin dalam Angkatan 66 (1968) ataupun Otobiografi susunan Abrar Yusra.
Dalam Otobiografi, AA Navis sendiri menyatakan begini:
Ayah dan ibu saya memberi saya nama Ali Akbar, lalu dipanggil si Ali atau si Kabar oleh teman-teman saya. Sedangkan Engku Guru di sekolah memanggil saya Akbar atau Ali.
Dalam buku yang sama, AA Navis juga menyatakan bahwa nama ayahnya Nafis Sutan Marajo dan nama ibunya Sawiyah.
Sementara tentang ejaan Navis yang dia gunakan, Navis menyatakan bahwa semua saudaranya menggunakan nama tambahan dengan ejaan Nafis sesuai nama ayahnya dan hanya dia sendiri yang mengeja nama tambahan tersebut sebagai Navis.
4. Cerita Robohnya Surau Kami
Sinopsis Robohnya Surau Kami di Jurnal Faktual
- Tangkapan Layar Jurnal Faktual
Masih dalam tulisan sama di Jurnal Faktual, disebutkan bahwa cerpen Robohnya Surau Kami mengisahkan tentang runtuhnya sebuah surau akibat ulah seorang pemuda yang membawa perempuan ke dalamnya.
Faktanya, cerpen Robohnya Surau Kami sama sekali bukan mengisahkan cerita semacam itu.
Benar bahwa ada surau yang hampir roboh dalam cerita tersebut, tetapi tidak ada kisah pemuda yang membawa perempuan ke dalamnya.
Jika ingin fokus pada kisah mengapa surau tersebut hampir roboh maka sebabnya karena garin tua penunggunya sudah tiada, dia meninggal karena bunuh diri.
Penyebab bunuh dirinya bisa dikaitkan dengan cerita sindiran yang disampaikan oleh karakter Ajo Sidi tentang pengadilan Tuhan di Hari Kiamat.
Dalam cerita sindiran tersebut, karakter Haji Saleh dan kawan-kawannya yang selama hidup rajin beribadah ternyata masuk neraka.
Alasannya karena mereka egois, hanya mementingkan diri sendiri melalui ibadah ritual dan mengabaikan peran sosial mereka.
5. Novel, Kumpulan Esai, dan Kumpulan Kritik Sastra AA Navis
Daftar Karya AA Navis di Jurnal Faktual
- Tangkapan Layar Jurnal Faktual
Masih dalam tulisan sama di Jurnal Faktual, disajikan informasi adanya 3 buku karya AA Navis berupa novel, kumpulan esai, dan kumpulan kritik sastra lengkap dengan sinopsisnya.
Ketiga buku tersebut berturut-turut berjudul Lubang di Laut (1961), Kota-Kota yang Saya Kenal (1972), dan Sekitar Prosa Indonesia Baru (1975).