Hardiknas, Pendidikan, dan Persoalan Kehidupan

Belajar di Alam
Sumber :
  • Pixabay / sasint

Banyaknya kisah bahwa siswa berprestasi di sekolah kalah bersaing dalam kesuksesan bekerja dibanding siswa yang selama sekolah mendapatkan skor paling bawah jelas menunjukkan adanya masalah jika pendidikan dilepaskan sepenuhnya dari orientasi pekerjaan. 

img_title Pakar Hukum Pidana: Jika Terbukti, Jokowi Bisa Dimintai Pertanggungjawaban dalam Kasus Chromebook

Artinya, pada akhirnya manusia memang harus membiayai hidup dan bekerja menjadi karyawan bisa menjadi salah satu pilihan. Dan tepat di situlah persoalannya: menjadi karyawan adalah salah satu pilihan, bukan satu-satunya pilihan. 

Dengan kata lain, kebijakan pendidikan akan lebih sesuai jika diarahkan untuk menyiapkan siswa menghadapi tantangan beragam pilihan lapangan kerja, termasuk kreativitas menciptakan sendiri lapangan pekerjaan.

img_title Pakar Hukum Pidana: Jika Terbukti, Jokowi Bisa Dimintai Pertanggungjawaban dalam Kasus Chromebook

Selain itu, penyesuaian dengan situasi di tempat siswa mendapatkan pendidikan juga penting. Artinya, jika sekolah berlokasi di desa, maka output pendidikan terkait aspek pekerjaan atau penghidupan bukan menawarkan pesona pekerjaan di kota melainkan bagaimana mengembangkan pekerjaan di desa. 

Hambatan untuk ideal semacam itu sudah jelas: dibutuhkan guru-guru terampil sesuai lokasi mereka mengajar dan bahan ajar yang cocok.

img_title Sejarah Hardiknas, Ternyata Sudah diperingati Sejak Zaman Bung Karno

Kebijakan pendidikan tidak bersifat sentralistik tetapi semi otonom, artinya mengikuti kebijakan umum dari pusat tetapi dengan penyesuaian pada masing-masing daerah.

Situasi semacam itu tentu terdengar humanis, tetapi tidak bisa kita  bantah juga utopis jika melihat situasi pendidikan nasional kita kini.

Akan tetapi tidak ada salahnya di momen Hardiknas 2023 kita merenungkan langkah-langkah menuju ke sana, setidaknya jika kita tidak ingin anak-anak kita menghabiskan usia panjang di sekolah kemudian gagal menghidupi dirinya kelak, atau sukses menjadi karyawan di kota tetapi terasing di tanah sendiri.

Penutup, kita juga bisa merenungkan baris-baris puisi penyair legendaris kita WS Rendra berikut ini:

Apakah gunanya pendidikan

bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing

di tengah kenyataan persoalannya ?

Apakah gunanya pendidikan

bila hanya mendorong seseorang

menjadi layang-layang di ibukota

kikuk pulang ke daerahnya ?

Apakah gunanya seseorang

belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,

atau apa saja,

bila pada akhirnya,

ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata :

"Di sini aku merasa asing dan sepi !"