Aktivis Inggris Mogok Makan 71 Hari: "Kapan Saya Mati?"

Foto Heba Muraisi dari internet
Sumber :
  • https://www.aljazeera.com/news/2026/1/13/uk-hunger-striker-heba-muraisi-i-think-about-how-or-when-i-could-die

Mindset – London, Inggris – Heba Muraisi, aktivis berusia 31 tahun dari kelompok Palestine Action yang ditahan tanpa dakwaan, memasuki hari ke-71 mogok makan pada Selasa, 13 Januari 2026, menyatakan secara terbuka memikirkan "bagaimana atau kapan saya bisa mati" akibat penahanan sewenang-wenang dan penolakan jaminan, di tengah kondisi kritis yang memicu kekhawatiran keluarga serta pakar medis.

img_title Inggris Banding Putusan Pengadilan Dukung Palestina Action Kemenangan

Mogok makan bergiliran ini melibatkan delapan tahanan yang protes label "teroris" dari pemerintah Inggris terhadap kelompok mereka, dengan lima sudah berhenti karena kesehatan memburuk.

Heba Muraisi mengungkapkan perasaannya tersebut dilansir dari Al Jazeera, Selasa, 13 Januari 2026.

img_title Inggris Larang Generasi Lahir Setelah 2009 Beli Rokok, Targetkan “Smoke-Free Generation”

“Saya sering memikirkan bagaimana atau kapan saya bisa mati; tubuh saya sudah sangat lemah setelah 71 hari tanpa makanan, tapi saya bertahan untuk keadilan dan pembebasan rekan-rekan,” katanya dalam wawancara eksklusif.

Ia menambahkan mengalami nyeri hebat, kehilangan berat badan drastis, serta risiko gagal organ, serupa pengalaman tawanan Guantanamo yang ia bandingkan dengan kondisinya saat ini.

img_title Polisi London Selidiki Keterlibatan Iran di Serangan Pembakaran

Kerry Moscogiuri, direktur kampanye Amnesty International UK, mengecam penanganan pemerintah melalui pernyataannya yang dikutip Al Jazeera.

“Situasi ini mengejutkan; aktivis dipaksa mogok makan ekstrem untuk menarik perhatian atas penahanan berkepanjangan tanpa sidang adil, ini penyalahgunaan kekuasaan anti-terorisme,” tegasnya.

Sementara itu, keluarga Muraisi melaporkan ia menolak makanan sejak November untuk tuntut pembebasan jaminan, penutupan fasilitas Elbit Systems Israel, dan akhir sensor di penjara.

Aksi ini bagian dari protes lebih luas terhadap tuduhan masuk paksa ke pabrik senjata Israel di Bristol dan pangkalan RAF, di mana aktivis tuntut sidang adil dan cabut label teroris pada Palestine Action.

Pakar hak asasi PBB peringatkan risiko kematian tanpa perawatan darurat.

Hingga kini, pemerintah Inggris belum merespons tuntutan, sementara Muraisi dan rekan seperti Kamran Ahmed (63 hari) serta Lewie Chiaramello tetap teguh.