3 Alasan Mengapa Kamu Nggak Boleh Melarang Anak Menangis

Efek anak yang dilarang menangis
Sumber :
  • https://www.pexels.com/id-id/foto/pria-menggendong-anak-1361766/

Parenting, VIVA Mindset – Saat masih kecil, anak akan cenderung mudah menangis jika ada hal-hal yang menurutnya kurang tepat atau tidak sesuai dengan kemauannya.

img_title Membaca Fiksi Sejak Dini agar Anak Paham Bencana Bukan Cuma Berita yang Cukup Dihadapi dengan Mindfulness

Terkadang, tangisan anak kurang bisa dinikmati oleh orang dewasa, terutama orang tua. Apalagi saat kondisi sedang tidak baik-baik saja. Alhasil, kerap kali kamu akan melarang anak menangis.

Melarang anak menangis contohnya bisa bermacam-macam, seperti dengan bilang “jangan nangis!”, “sudah besar tidak boleh nangis”, atau sesimpel memberhentikan tangisan anak dengan mengalihkan fokusnya terhadap hal lain, misalnya “itu ada kucing, yuk lihat kucing”, alhasil fokus anak langsung berubah dengan melihat kucing.

img_title Mengenal Bullying pada Anak: Jenis, Dampak terhadap Kesehatan Mental, dan Cara Mencegahnya

Efek melarang anak menangis

Menurut Psychology Today, menangis dan mengekspresikan perasaan adalah keterampilan sosial-emosional yang penting.

img_title Mengenal Ms. Rachel dan Metode Viralnya dalam Membantu Speech Delay Anak

Saat orang dewasa berusaha untuk melarang atau menghentikan anak menangis, tentunya ada efek negatif yang dirasakan anak-anak ketika sudah dewasa.

Bagi dr. Hendra Wardhana, ada 3 hal yang bisa terjadi saat kamu melarang anak menangis.

  1. Anak jadi sulit mengelola emosi
  2. Trauma
  3. Merusak kepercayaan diri

Apa yang harus dilakukan jika anak menangis?

Seperti yang dikutip dari laman Raising Children, anak di bawah 1 tahun tentunya belum bisa mengungkapkan emosi dengan mudah. Sebagai orang tua, kamu perlu mencari tahu apa yang membuatnya tidak nyaman.

Sementara untuk anak 1-8 tahun, biarkan anak meluapkan emosinya dengan cara menangis. Jangan lupa untuk tetap berada di sampingnya agar ia tidak merasa sendiri.

Saat anak sudah mulai tenang, ajak bicara. Tanyakan apa yang dirasakannya. Terakhir, cari jalan keluarnya berdua.

Dengan begitu, anak bisa lebih mengerti emosi yang dirasakannya dan tetap merasa aman saat menangis.