Belajar Berdamai Dengan Kecemasan Lewat Film Inside Out 2
- https://movies.disney.com/inside-out-2
Parenting, VIVA Mindset – Setelah sukses besar dengan film pertamanya yang mengenalkan kita pada emosi dasar manusia, Pixar kembali dengan sekuel yang lebih dewasa dan kompleks, Inside Out 2. Jika film pertama bercerita tentang pentingnya kesedihan (Sadness), film kedua ini menyoroti badai emosi yang lebih rumit saat seseorang memasuki masa pubertas, yaitu kecemasan akan masa depan.
Dilansir dari laman resmi Pixar, cerita berpusat pada Riley yang kini berusia 13 tahun. Markas besar di kepalanya mendadak kedatangan tamu tak diundang: Anxiety (Kecemasan), Ennui (Kebosanan), Envy (Iri Hati), dan Embarrassment (Rasa Malu). Dinamika antara emosi lama dan baru ini memberikan pelajaran psikologis yang sangat berharga bagi penonton dewasa maupun remaja. Berikut adalah pesan moral utama dari film ini.
1. Kecemasan Bukanlah Musuh Jahat
Tokoh Anxiety digambarkan berwarna oranye, bergerak cepat, dan selalu memikirkan skenario terburuk di masa depan. Dikutip dari Rotten Tomatoes, meskipun Anxiety terlihat antagonis karena mengambil alih kendali dari Joy (Bahagia), niatnya sebenarnya baik. Ia ingin melindungi Riley dari kegagalan sosial.
Film ini mengajarkan bahwa rasa cemas adalah mekanisme pertahanan diri yang wajar. Namun, jika dibiarkan memegang kendali penuh, kecemasan akan membuat kita kehilangan jati diri dan terus-menerus hidup dalam ketakutan akan hal yang belum terjadi (overthinking). Kuncinya bukan menghilangkannya, tapi mengendalikannya.
2. Bahaya "Toxic Positivity
Salah satu momen krusial di film ini adalah ketika Joy berusaha membuang semua kenangan buruk Riley ke tempat sampah agar Riley hanya mengingat hal-hal indah. Melansir ulasan di RogerEbert.com, tindakan ini justru menjadi bumerang.
Manusia tidak bisa tumbuh dewasa jika hanya mengingat keberhasilannya saja. Kita butuh rasa malu dan kegagalan untuk belajar rendah hati dan empati. Memaksa diri untuk selalu positif dan melupakan kesalahan justru membuat kepribadian kita menjadi rapuh dan tidak autentik.
3. Menerima Diri Apa Adanya
Puncak emosional film ini terjadi ketika Riley mengalami serangan panik (panic attack). Disadur dari IMDb, solusi dari masalah ini bukanlah dengan menekan emosi, melainkan dengan merangkul semuanya.