Cara Cerdas Menangani Anak Tantrum Tanpa Perlu Emosi
- https://www.pexels.com/photo/toddler-with-red-adidas-sweat-shirt-783941/
Parenting, VIVA Mindset – Menghadapi anak yang sedang tantrum seringkali menjadi ujian terberat bagi kesabaran orang tua. Teriakan, tangisan kencang, hingga aksi melempar barang yang dilakukan Si Kecil bisa memicu stres seketika. Namun, penting untuk diingat bahwa tantrum bukanlah tanda anak nakal, melainkan bagian normal dari perkembangan emosional mereka saat belajar mengekspresikan frustrasi.
Dilansir dari Mayo Clinic, tantrum biasanya terjadi karena kemampuan bahasa anak belum cukup berkembang untuk mengatakan apa yang mereka inginkan atau rasakan. Sebagai orang tua, respon Anda sangat menentukan durasi dan intensitas tantrum tersebut. Berikut adalah langkah-langkah penanganan yang disarankan oleh para ahli kesehatan anak.
1. Tetap Tenang dan Jangan Terpancing
Kunci pertama dan terpenting adalah mengelola emosi diri sendiri terlebih dahulu. Dikutip dari Cleveland Clinic, jika orang tua merespons teriakan anak dengan teriakan yang lebih keras, situasi justru akan semakin memburuk. Anak akan merasa terancam dan tangisannya bisa semakin histeris.
Cobalah untuk menarik napas dalam-dalam. Ingatlah bahwa tugas Anda adalah membantu anak menenangkan diri (co-regulation). Jika Anda tetap tenang dan berbicara dengan nada datar, anak perlahan akan menyerap ketenangan tersebut. Jangan berargumen atau mencoba menasehati panjang lebar saat emosi anak sedang meledak, karena otak mereka sedang tidak bisa memproses logika.
2. Gunakan Teknik Mengabaikan (Ignoring)
Jika tantrum terjadi karena anak ingin menuntut sesuatu (misalnya minta mainan atau permen), memberikan perhatian justru akan memperkuat perilaku tersebut. Melansir laman KidsHealth, teknik "mengabaikan secara terencana" bisa sangat efektif selama anak berada di tempat yang aman.
Lanjutkan aktivitas Anda dan pura-pura tidak melihat aksinya. Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa mengamuk bukanlah cara yang efektif untuk mendapatkan perhatian atau keinginan. Biasanya, anak akan berhenti dengan sendirinya ketika mereka sadar bahwa "senjata" tantrum mereka tidak mempan.
3. Fokus pada Perilaku Positif
Setelah badai tantrum berlalu dan anak sudah tenang, inilah saatnya untuk masuk kembali. Disadur dari UNICEF, hindari menghukum atau memarahi anak karena emosi yang baru saja mereka luapkan. Sebaliknya, berikan validasi atas perasaan mereka.