Dampak Kurang Tidur Bagi Kecerdasan Dan Emosi Anak

Ilustrasi anak yang tertidur pulas
Sumber :
  • https://www.pexels.com/photo/photo-of-child-laying-on-bed-3933069/

Parenting, VIVA Mindset – Tidur seringkali dianggap hanya sebagai waktu istirahat bagi tubuh. Padahal, bagi anak-anak, tidur adalah periode krusial di mana otak dan tubuh mereka bekerja keras untuk tumbuh. Banyak orang tua yang fokus pada nutrisi dan pendidikan, namun melupakan bahwa kualitas tidur memiliki pengaruh yang sama besarnya terhadap masa depan anak.

img_title Terlalu Sering Membentak Anak? Ini Dampak Buruk bagi Otak dan Solusi Memperbaikinya

Dilansir dari Sleep Foundation, anak usia sekolah (6-13 tahun) idealnya membutuhkan waktu tidur antara 9 hingga 11 jam setiap malam. Kurang tidur kronis tidak hanya membuat anak mengantuk di kelas, tetapi juga menghambat perkembangan kognitif dan kestabilan emosi mereka. Berikut adalah dampak serius yang terjadi jika anak sering begadang atau kurang tidur.

1.      Menurunnya Kemampuan Konsentrasi

img_title Memahami Akar Masalah Kehilangan Motivasi Belajar Anak

Anak yang kurang tidur akan kesulitan memusatkan perhatian saat belajar. Dikutip dari Stanford Medicine Children's Health, tidur yang cukup berperan penting dalam fungsi kognitif, termasuk kemampuan memori dan konsentrasi di sekolah.

Tanpa tidur yang cukup, otak tidak memiliki kesempatan untuk "mengisi ulang" energi. Akibatnya, anak menjadi pelupa, lambat dalam memproses informasi baru, dan rentan mengalami penurunan prestasi akademik karena sulit fokus saat guru menerangkan pelajaran.

img_title Wajib Tahu! Cara Asyik Ajari Anak Menulis dan Berhitung

2.      Gangguan Perilaku dan Emosi

Pernahkah Anda melihat anak menjadi sangat rewel, mudah marah, atau tantrum tanpa sebab jelas? Bisa jadi itu karena mereka lelah. Melansir laman Cleveland Clinic, kurang tidur memengaruhi bagian otak yang mengatur emosi.

Anak yang lelah memiliki ambang batas kesabaran yang lebih rendah. Mereka menjadi lebih impulsif, mudah tersinggung, dan berisiko lebih tinggi mengalami masalah perilaku seperti hiperaktif atau justru menarik diri dari pergaulan sosial (depresi).

3.      Hambatan Pertumbuhan Fisik

Istilah "tidur biar cepat besar" ternyata bukan mitos belaka. Disadur dari KidsHealth, hormon pertumbuhan (growth hormone) sebagian besar dilepaskan ke dalam darah saat anak sedang tidur nyenyak (deep sleep).

Jika waktu tidur anak terpotong, produksi hormon ini akan terganggu. Hal ini dapat berdampak pada tinggi badan yang tidak optimal dan sistem kekebalan tubuh yang lemah, sehingga anak menjadi lebih gampang sakit flu atau infeksi lainnya dibandingkan teman sebayanya yang cukup tidur.