4 Kata Sederhana yang Mengubah Cara Bicara dengan Anak dan Semua Orang!

Kata-kata bisa membangun hubungan & juga bisa memicu konflik
Sumber :
  • https://www.freepik.com/free-photo/medium-shot-father-kid_14960225.htm

Parenting, VIVA Mindset –Kata-kata yang kita pilih bisa membangun hubungan atau justru memicu konflik bahkan saat niat kita baik sekalipun. Seperti yang diulas dalam artikel Not Just Cute, ada empat kata sederhana yang membantu mengubah cara berbicara dengan anak (dan orang dewasa) agar lebih terhubung, damai, dan jelas. Artikel ini menekankan bahwa satu kata kecil bisa “membatalkan” pesan sebelumnya jika tidak dipilih dengan hati-hati, sehingga komunikasi menjadi kurang efektif.

img_title Panduan Lengkap Pemberian MPASI Tepat Waktu untuk Mencegah Stunting pada Usia Tumbuh Emas

Banyak orang tua menyadari bahwa kata “tapi” sering muncul dalam percakapan, seperti dalam kalimat: “Aku tahu kamu sedih, tapi kita harus pergi.” Namun menurut para ahli komunikasi dan psikologi, kata “tapi” memiliki efek negatif karena cenderung membatalkan pernyataan sebelumnya termasuk saat kita mencoba memberikan empati. Hal ini membuat anak merasa seolah-olah perasaannya tidak sepenuhnya diakui.

Misalnya, kalimat seperti “Aku tahu kamu ingin main, tapi sudah waktunya pulang” bisa terdengar seperti: “Perasaanmu tidak sepenting jadwal kita.” Selanjutnya, komunikasi yang dimaksudkan untuk menenangkan justru bisa memicu perasaan tidak dimengerti pada anak.

img_title Penerapan Pengasuhan Positif dalam Membentuk Karakter dan Perkembangan Otak Anak Usia Dini

Alih-alih menggunakan “tapi”, artikel ini merekomendasikan memadukan empati dan tujuan dengan frasa yang lebih inklusif: “pada saat yang sama…”. Frasa ini memungkinkan pernyataan pertama untuk berdiri sendiri — memberi ruang bagi emosi anak — sambil tetap menyampaikan kenyataan atau batasan yang harus ditegakkan.

Contohnya:

img_title Mengubah Pola Pengasuhan Anak Remaja: Menjadi Mentor dan Membangun Kemandirian Masa Depan

“Aku tahu kamu sedih harus meninggalkan taman. Pada saat yang sama, kita perlu sampai di rumah sebelum adik turun dari bus.”

“Aku mengerti kamu ingin terus bermain dengan mainan itu—pada saat yang sama, tidak boleh memukul teman untuk mendapatkan giliran.”

Penggunaan frasa “pada saat yang sama” memberi sinyal bahwa kedua perasaan atau realitas bisa “berdampingan”. Ini berarti keduanya valid: perasaan anak tetap diakui, dan orang tua tetap menyampaikan batasan atau kebutuhan lain tanpa mengabaikan apa yang anak rasakan.

Keuntungan pendekatan ini tak hanya berlaku saat berinteraksi dengan anak. Orang tua juga bisa menggunakannya dalam hubungan lain, misalnya saat berdiskusi dengan pasangan tentang pengasuhan, saat menjelaskan keputusan kepada keluarga besar, atau ketika menghadapi pendapat yang berbeda dalam diskusi. Frasa ini membantu meminimalkan konflik dan memberi ruang bagi dua perspektif untuk didengar tanpa saling meniadakan.

Halaman Selanjutnya
img_title