Panduan Praktis Mengatasi Anak Tantrum
- https://id.pinterest.com/pin/4609856538007580928/
6. Ajarkan kata-kata untuk mengekspresikan perasaan
Latih anak mengenali dan mengucapkan emosi seperti “aku marah”, “aku sedih”, “aku kecewa”. Saat anak tenang, gunakan buku cerita atau role-play untuk latihan. Mengajarkan keterampilan verbal membantu mengurangi frekuensi tantrum karena anak punya alat lain untuk mengekspresikan kebutuhan.
7. Gunakan rutinitas, aturan, dan konsekuensi yang konsisten
Anak-anak berkembang dengan rutinitas. Jadwal tidur atau makan yang tetap, aturan yang jelas, dan konsekuensi yang konsisten membuat anak merasa aman dan memahami batas. Setelah tantrum mereda, beri penjelasan singkat dan sederhana tentang aturan serta konsekuensinya dan bukan saat emosi sedang tinggi.
8. Teknik menenangkan yang bisa dipakai orangtua
Beberapa teknik yang sering disarankan oleh psikolog dan praktisi:
- Bernapas bersama untuk menurunkan intensitas, misal hitung napas perlahan.
- Time-in atau tetap dekat, memberikan dukungan emosional setelah anak tenang (alternatif yang lebih hangat dibanding time-out).
- Pujian spesifik untuk perilaku yang tenang atau usaha mengendalikan diri.
9. Kapan harus khawatir dan mencari bantuan profesional
Tantrum pada balita normal, tetapi bicarakan ke dokter anak atau psikolog jika:
- Tantrum sering (misal beberapa kali per minggu) dan berlangsung sangat lama (>15 menit).
- Disertai perilaku berbahaya: melukai diri sendiri atau orang lain, merusak barang.
- Mengganggu perkembangan sosial atau kemampuan anak untuk bermain dan belajar.
- Penilaian profesional dapat menyingkirkan kondisi lain (misal gangguan perkembangan, masalah sensorik, atau gangguan perilaku).